Dalam satu dekade terakhir, hanya dua tahun saja masalah ekonomi ternyata bukan menjadi hal yang mengkhawatirkan bagi planet ini.

Setidaknya menurut para anggota peserta World Economy Forum (WEF) yang mulai hari ini melakukan pertemuan di Davos, Swiss. Mereka berpendapat bahwa antara ekonomi dan bursa saham, tidak berhubungan. Tiongkok saat ini memang melambat, namun hal itu bukan sebuah bencana besar bagi planet ini.

World Economy Forum tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ke-46. Dalam tiap pertemuan tahunan, dibahas lima masalah utama bagi planet ini, biasanya salah satunya adalah agenda ekonomi, kecuali di tahun 2011 dan tahun 2016 ini. Lima masalah yang penting bagi penduduk bumi saat ini adalah (1) Pengungsi, (2) Cuaca Ekstrim, (3) Kegagalan Melakukan Mitigasi Perubahan Iklim, (4) Konflik antar negara dan (5) Bencana alam yang dasyat.

The Global Impact of China's Economic Transformation: Li Keqiang
PM Li Keqiang menyampaikan makalah”The Global Impact of China’s Economic Transformation” dalam pertemuan tahunan World Economy Forum di Davos, Swiss pada 21 Januari 2015. (Foto oleh Michael Buholzer, swiss-image.ch)

Setahun lalu, dalam forum yang sama, Perdana Menteri Tiongkok, Li Keqiang menyatakan bahwa negaranya bisa menghindari sebuah hard landing. Dalam panel menjelang pertemuan di Davos, peraih nobel Joseph Stiglitz dan CEO Credit Suisse Group AG Tidjane Thiam mengamini apa yang dikatakan oleh Li Keqiang tersebut.

Pernyataan mereka ini seakan berbenturan dengan sentimen dipasar keuangan saat ini, dimana aksi jual secara besar-besaran terjadi atas Yuan dan Saham-saham Tiongkok. Tentu saja aksi jual ini berimbas pada pasar komoditi pula dan membuat setidaknya $5 trilyun tersapu dari bursa diseluruh dunia atas bayang-bayang ketakutan pelaku pasar atas masa depan pertumbuhan dunia.

Mantan Menteri Keuangan AS, Tim Adams menyatakan bahwa sentimen tersebut terlalu jauh dan cepat sehingga membuat pasar makin tajam terjun kebawah dengan skenario kejatuhan pasar yang hiperbolastis. Padahal sebagaimana aktor-aktor ekonomi utama lainnya, pada akhirnya Tiongkok akan diyakini bisa melewati dan mengatasi masalah ini, tandasnya.

Para investor memang meningkatkan perhatian mereka pada Tiongkok, setelah negeri Bambu tersebut pada Selasa (19/01/2016) kemarin juga melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi mereka di tahun 2015 lalu merupakan yang paling lemah sejak 1990. Tentu saja ini sangat menakutkan para investor terlebih dengan kekhawatiran akan masalah hutang yang diperkirakan mencapai $28 trilyun. Alhasil, Yuan terus melemah sehingga menambah resiko dan bayang-bayang devaluasi mengemuka kembali. Dampak lainnya, bursa saham menurun dan masuk dalam tren penurunan (Bearish).

Tidak dipungkiri bahwa dengan posisi Tiongkok sebagai negara adidaya ekonomi nomer 2 didunia, dengan cakupan sekitar 15% produksi global, tentu kekhawatiran-kekhawatiran yang bersumber dari Tiongkok akan merembet dan menyebar ke negara-negara lain. Bagaimana tidak, upaya mereka untuk memangkas impor komoditi dan produk manufaktur saja, telah menimbulkan kegerahan bagi negara-negara lain. Melemahnya Yuan, juga menjadi ancaman bagi pihak lain berupa disinflasi.

WEF - Joseph Stiglitz - Worldbank
Joseph Stiglitz (Foto dari Worldbank)

Meski demikian, beberapa ekonom mencoba untuk menepis anggapan suramnya perekonomian ini. Optimisme mereka ini didasarkan pada fakta bahwa aksi konsumerisme masih berlangsung di Tiongkok, harga-harga properti masih stabil dan permintaan akan ekspor telah mengalami kenaikan ditengah munculnya ruang yang banyak bagi adanya berbagai kebijakan moneter dan fiskal yang bisa merangsang pertumbuhan ekonomi Tiongkok kembali. Jadi, meskipun pertumbuhan ekonomi menyurut, Tiongkok masih bergerak sesuai dengan jalurnya untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 persen di tahun ini, sebagaimana wacana umum yang muncul dari hasil jajak atas sebagian besar ekonom oleh Bloomberg.

Dalam istilah Stiglitz, selalu ada jurang yang memisahkan antara apa yang terjadi dalam ekonomi riil dengan pasar uang. Apa yang terjadi di Tiongkok saat ini dimana perlambatan terjadi pada hampir semua sektor, namun hal itu bukanlah sebuah bencana besar, tegasnya.

Adam Posen, Presiden dari The Peterson Institute for International Economics, menyatakan bahwa situasi Tiongkok saat ini mirip dengan yang dialami Amerika Serikat pada dekade 1980an saat mengalami krisis tabungan dan pinjaman, sama-sama menyakitkan namun tidak sampai membuat perekonomian hancur. Rakyat Tiongkok saat ini masih memiliki tabungan, sementara negara juga hanya memiliki hutang dalam mata uang asing yang sedikit, perbankan Tiongkok juga menunjukkan tanda-tanda tidak adanya gangguan stabilitas, ungkapnya. Posen, yang juga merupakan mantan Dewan Gubernur Bank of England menambahkan kepada Bloomberg, bahwa publik saat ini terlalu beritindak berlebihan. Dalam kondisi yang lebih buruk sekalipun, dampaknya diperkirakan hanya terbatas pada 0,2% dari PDB AS, Eropa dan Jepang, ungkap Goldman Sachs Group Inc. dalam laporannya bulan ini.

Beberapa pihak beralasan bahwa derita ini akhirnya akan terbayarkan saat Tiongkok bisa kembali melanjutkan pertumbuhannya secara berkesinambungan dengan menitik beratkan pada peningkatan sektor konsumsi dan jasa dibandingkan investasi dan manufaktur. Meski demikian, Tiongkok tetap membawa peluang untuk menyeret perekonomian global dalam resesi ditahun-tahun mendatang.

Dalam pertemuan World Economy Forum ini masih akan membuka ruang perdebatan yang luas antar berbagai pihak. Dengan 2500 peserta, isu mengenai jatuhnya Tiongkok ini masih akan mendominasi berbagai diskusi, terlebih jika dikaitkan dengan isu munculnya kekuatan ekonomi super yang terbaru. Pertanyaan yang abadi dalam berbagai kesempatan diforum ini salah satunya adalah apa strategi Tiongkok selanjutnya. Isu Tiongkok, naiknya suhu politik antara Iran dan Arab Saudi  pasti menggaung dari ruang-ruang diskusi. Pelaku pasar memang benci ketidak pastian, terlebih saat ketidak pastian mengenai Tiongkok sangat tinggi saat ini. (Lukman Hqeem)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s