Tugu Digulis, Pontianak


017

Kartupos bergambar Tugu Digulis atau Tugu Bambu Runcing ini terletak di Kota Pontianak, di Jl. Jend. Achmad Yani. Tepatnya di Bundaran Universitas Tanjung Pura. Masyarakat kota Pontianak lebih mengenal Tugu Digulis dengan nama bundaran “Bambu Runcing”. Kartupos buatan The Cards Company, Potianak Indonesia. Terima kasih Agus Kartayadi (Singkawang) yang sudah mengirimkan kartupos ini. 

Berada di areal kurang lebih seluas 1779 meter persegi (dengan diameter 47,4 meter). monumen ini didirikan sebagai peringatan atas perjuangan sebelas tokoh Sarekat Islam di Kalimantan Barat, yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Barat. Monumen yang diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Barat H. Soedjiman pada 10 November 1987. Pada tahun 2006 dilakukan renovasi pada monumen ini sehingga berbentuk lebih mirip bambu runcing seperti penampakan saat ini.

Bermula dari terbentuknya Sarikat Islam tahun 1914 di Ngabang. Kemudian pembentukkan Partai Sarikat Islam 1923. Menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah pergerakan perjuangan rakyat Kalimantan Barat. Karena khawatir pergerakan mereka akan memicu pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda di Kalimantan ini. Seperti yang telah terjadi di Jawa dan Sumatera. Pemerintahan Hindia Belanda kemudian menangkap sejumlah tokohnya. Kemudian dibuang ke Boven Digul, di Papua. Dari nama tempat pembuangan penjara alam itulah, kemudian tugu ini disebut dengan Tugu Digulis.
Tiga dari meraka meninggal pada saat menjalani  pembuangan di Boven Digoel, lima dari para tokoh tersebut wafat dalam Peristiwa Mandor dan tiga orang lainnya meninggal karena sakit. Untuk menghormati dan mengenang kesebelas tokoh tersebut selain dibuatkan monumen ini, nama-nama kesebelas tokoh tersebut kini diabadikan juga sebagai nama jalan di Kota Pontianak. Kesebelas pejuang itu antara lain:
  • Achmad Marzuki, asal Pontianak, meninggal karena sakit dan dimakamkan di makam keluarga;
  • Achmad Su’ud bin Bilal Achmad, asal Ngabang, wafat dalam Peristiwa Mandor;
  • Gusti Djohan Idrus, asal Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digoel;
  • Gusti Hamzah, asal Ketapang, wafat dalam Peristiwa Mandor;
  • Gusti Moehammad Situt Machmud, asal gabang, wafat dalam Peristiwa Mandor;
  • Gusti Soeloeng Lelanang, asal Ngabang, wafat dalam Peristiwa Mandor;
  • Jeranding Sari Sawang Amasundin alias Jeranding Abdurrahman, asal Melapi, Kapuas Hulu, meninggal karena sakit di Putussibau.
  • Haji Rais bin H. Abdurahman, asal Ngabang, wafat dalam Peristiwa Mandor;
  • Moehammad Hambal alias Bung Tambal, asal Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digoel;
  • Moehammad Sohor, asal Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digoel; dan
  • Ya’ Moehammad Sabran, asal Ngabang, meninggal karena sakit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s