Apresiasi Film Indonesia 2012, sajikan film berkarakter bangsa dan nilai-nilai kearifan budaya lokal


Apresiasi Film Indonesia 2012

Malam Penganugerahan terunggul Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2012 usai digelar di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Minggu (2/12). Meski pengunjungnya sedikit tampaknya tak mengurangi arti sebuah festival yang memang baru pertama kali digelar. Sebagai bentuk apresiasi pada perkembangan film Indonesia.

Gagasan menyelenggarakan AFI berangkat dari keprihatinan terhadap perkembangan Film Indonesia yang terpuruk, dengan munculnya film-film yang mengarah pada porngrafi, mistik dan kekerasan ditambah dramatisasi yang berlebihan hingga diluar batas serta melecehkan kecerdasan.

AFI berusaha mensosialisasikan film-film bermutu dan mendidik dengan harapan bisa menumbuhkan kembali kepercayaan masyarakat bahwa kita masih memiliki film-film yang layak dan baik untuk dilihat dan diapresiasi.  Film-film yang masuk dalam nominasi, umumnya film yang memiliki karakter dan muatan positif berbasis nilai budaya dan karakter bangsa.

Film Mata Tertutup malam itu memborong Penghargaan AFI 2012. Dari 14 penghargaan, film produksi SET Film & Ma’arif Institute mampu meraih lima penghargaan sekaligus, yaitu Film Cerita Panjang Terunggul, Sutradara Terunggul (Garin Nugroho), Pemeran Utama Wanita Terunggul (Jajang C Noer), Pengarah Sinematografi Terunggul (Anggi Frisca “Cumit”), dan Pemeran Pendukung Pria Terunggul (Kukuh Riyadi). Film yang mengusung tema anti-kekerasan dan anti-fundamentalisme, itu memang jempolan. Dengan penghargaan ini, tampaknya Garin Nugroho mulai dihargai di dalam negeri. Karena selama ini, ayah sutradara Kamila Andini dan mertua sutradara Ifa Isfansyah, itu lebih banyak meraih penghargaan berbagai festival film internasional.

Tiga film lainnya masing-masing dua penghargaan, yaitu film Soegija merebut penghargaan Penulis Skenario Cerita Asli Terunggul (Armantono dan Garin Nugroho) dan Pemeran Pendukung Wanita Terunggul (Annisa Hertami), film Hafalan Shalat Delisa (Penyunting Gambar Terunggul – Cesa David Luckmansyah dan Ryan Purwoko) dan (Penata Suara Terunggul – Khikmawan Santosa) dan film Rumah di Seribu Ombak (Pengarah Artistik Terunggul – Erwin Arnada) dan (Penata Musik Terunggul – Thoersi Argeswara). Adapun dua film; Tanah Surga … Katanya dan Cita Citaku Setinggi Tanah berbagi rata masing-masing satu penghargaan.

Penghargaan Pengabdi Seni & Kearifan LokaL diberikan pada Budiyati Abiyoga. Ia memang pantas menerimanya. Naga Bonar Jadi 2 adalah salah satu dari sederet catatan prestasinya. Film menjadi sarana bagi Budiyati untuk menumbuhkan rasa cinta pada bangsa. Ia memberi pelatihan kepada para remaja untuk membuat sarana audiovisual serta kreatif daur ulang yang dapat dijadikan properti perfilman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s