Harga minyak turun, AS enggan komentari adanya kesepakatan dengan Arab Saudi


Harga minyak mentah berakhir turun pada perdagangan hari Rabu (19/09), merosot dibawah $92 per barel setelah pemerintah melaporkan adanya kenaikan suplai minyak yang lebih besar dari perkiraan sebelumnya dan koreksi harga yang terjadi sejak sehari sebelumnya masih membekas.

Harga minyak untuk kontrak Oktober ditutup turun $3.31, atau turun 3.5%, berakhir di harga $91.98 per barel di New York Mercantile Exchange.

Harga minyak ditutup pada posisi terendahnya dalam tiga minggu ini di perdagangan sebelumnya dan selama seminggu ini telah jatuh lebih dari 5%, para investor nampaknya kembali melanjutkan aksi koreksinya sejak kemarin dan merasa khawatir dengan kenaikan cadangan minyak mentah AS yang meningkat.

Sebagian pasar menilai jatuhnya harga minyak sebagai upaya mencari keseimbangan harga yang baru meski sebagian pelaku pasar lain juga menuding apa yang dikatakan pejabat dari Arab Saudi sebelumnya yang mengkomentari harga minyak saat ini serta pernyataan Sekjen Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) yang menyatakan bahwa harga minyak saat ini tidak relevan untuk mencerminkan suplai dan permintaan pasar.

Juru bicara EIA menyatakan bahwa lembaga tersebut tidak memiliki alasan untuk percaya akan berbagai kabar yang menyatakan kenaikan cadangan minyak mentah AS secara tajam sebelum data yang resmi mereka terbitkan. Sementara Komisi Perdagangan Komoditi Berjangka AS, U.S. Commodity Futures Trading Commission secara resmi belum mengembalikan permintaan pendapat-pendapatnya mengenai apa yang menyebabkan jatuhnya harga minyak mentah demikian tajam di hari Rabu ini.

EIA, Lembaga Informasi Energi AS pada hari Rabu (19/09) menyatakan bahwa cadangan minyak mentah AS hingga pekan yang berakhir 14 september kemarin mengalami kenaikan yang tajam sebesar 8.5 juta barel. Atas data minyak ini, harga minyak mentah yang sebelumnya jatuh tajam kemudian mengalami penguatan.

Analisa yang diterbitkan Platts berharapa cadangan minyak hanya akan naik 2.5 juta barel sementara pihak API memperkirakan kenaikan akan sebesar 2.4 juta barel.

Dalam pertemuan regular di hari Rabu di Gedung Putih, pihak Gedung Putih secara resmi menyatakan bahwa mereka terus memantau pasar minyak dan menambahkan bahwa Presiden sendiriĀ  juga memiliki banyak pilihan kebijakan berkenaan dengan minyak yang ada di hadapannya termasuk mengenai kenaikan harga minyak yang tinggi ini.

Pun demikian, pemerintah AS menolak untuk memberikan komentar berkenaan dengan pertanyaan apakah AS dan Arab Saudi melakukan koordinasi atau pembicaraan mengenai upaya menekan kenaikan harga minyak mentah lebih tinggi kembali. Pemerintah AS hanya menyatakan harapannya agar Arab Saudi kembali melanjutkan komitmennya untuk melakukan berbagai upaya yang diperlukan guna memberikan jaminan suplai minyak mentah ke pasar berjalan dengan baik-baik saja.

Diawal perdagangan hari Rabu (19/09) harga minyak mentah mengalami kenaikan akibat dorongan yang berasal dari kebijakan yang diambil Bank Sentral Jepang, Bank of Japan dimana secara mengejutkan mereka memutuskan untuk meningkatkan dana untuk melakukan pembelian obligasi dari sebesar 10 trilyun Yen atau setara dengan $126.7 milyar menjadi 80 trilyun Yen.

Dalam pernyataannya, langkah ini diambil sebagai upaya memperbaiki perekonomian Jepang yang terhenti pertumbuhan ekonominya dan aktifitas ekonomi di negara diyakini butuh rangsangan lebih lanjut.

Atas kebijakan ini, beberapa asset dan komoditi yang memiliki resiko lebih mengalami dorongan kenaikan harga, meski kemudian terhenti setelah kebijakan itu justru membuat Dolar AS membumbung. Sebagaimana lazimnya, saat Dolar AS menguat maka harga komoditi akan mengalami tekanan.

Dalam perdagangan selanjutnya, Dolar tidak mampu memanfaatkan momentum ini lebih banyak lagi, dimana Indek Dolar AS kemudian justru menurun ke 79.057, turun dari sebelumnya di 79.226.

Perhatian pasar minyak kemudian beralih kepada Arab Saudi dimana negara tersebut telah menawarkan bagi para konsumennya di AS, Eropa dan Asia atas suplai minyak yang lebih besar guna menekan harga minyak mentah naik lebih tinggi. Bagi sebagian pihak, harga minyak saat ini memang dianggap terlalu tinggi, dan parahnya, hal ini justru tidak bisa mencerminkan kondisi nyata dari permintaan dan suplai minyak global.

Sebagian pelaku pasar memang bersikap lebih pragmatis dengan kondisi terkini, berbagai kebijakan The Fed akan membuat harga minyak naik secara relative atas menurunnya Dolar AS dan disaat yang sama, kondisi geopolitik di Timur Tengah menjadi pijakan yang baik untuk membuat harga minyak mentah naik lebih tinggi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s