Berita ekonomi dan pasar


1. Indonesia-Kolombia Berkomitmen Tingkatkan Perdagan

2. Indonesia hentikan sementara impor garam.

3. Indonesia – Ekuador Intensifkan Kerja Sama Perdagangan

4. Afrika, tujuan ekspor non tradisional Indonesia

5. Bursa AS terkoreksi, ambil untung sesaat.

6. Minyak mentah turun atas spekulasi pelepasan cadangan minyak strategis

7. Emas ditutup menurun ditengah upaya melaju.

8. Iran yakin minyak kembali ke $150 per barel.

1. Indonesia-Kolombia Berkomitmen Tingkatkan Perdagangan

Forum Bisnis Indonesia yang telah dilaksanakan di Bogota pada 12 September 2012 berhasil menarik minat sedikitnya 40 peserta yang mewakili perusahaanperusahaan  di Kolombia untuk mengetahui lebih jauh berbagai peluang bisnis dengan Indonesia. Kolombia memandang Indonesia sebagai negara prioritas di Asia dan mengharapkan dalam waktu dekat kedua negara akan memiliki agenda kerja sama untuk menghasilkan MoU/Trade Agreement di bidang perdagangan.

Menurut Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Gusmardi Bustami, meskipun Kolombia merupakan negara yang secara geografis sangat jauh letaknya dengan Indonesia, namun bukan menjadi kendala untuk melakukan kerja sama perdagangan yang lebih intensif.

“Yang terpenting saat ini adalah bagaimana menjembatani jurang pemisah karena kondisi geografis, bahasa, dan budaya. Jurang pemisah ini telah membentuk semacam mental block yang mengakibatkan kurangnya informasi yang diperoleh masing-masing pihak. Komunikasi dan saling bertukar informasi harus terus dibuka dan lebih diintensifkan agar kita lebih saling mengenal,” tambahnya.

Wakil Menteri Perdagangan Kolombia, Gabriel Andre Duque yang berkesempatan hadir dalam forum bisnis tersebut menyampaikan bahwa dengan posisinya yang strategis, berada di tengah kawasan Amerika Tengah dan Selatan, Kolombia menawarkan diri sebagai pintu gerbang bagi Indonesia untuk memasuki seluruh negara di kawasan. Kolombia berminat untuk bekerja sama lebih luas di bidang produk gula, kelapa sawit, karet, kakao, pariwisata, serta ekspor sapi dan daging sapi. Minat sangat besar juga datang dari pengusaha Kolombia untuk bekerja sama dengan pengusaha Indonesia di berbagai bidang. Hal ini ditandai dengan banyaknya pengusaha Kolombia yang ikut dalam Trade Expo Indonesia yang diadakan setiap tahun di Jakarta.

Kolombia telah membuka kembali Kedutaan Besarnya di Jakarta pada tahun 2011 lalu. Menurut data KBRI Bogota, saat ini rata-rata kunjungan masyarakat Kolombia adalah 600 orang per tahun. Kunjungan tersebut biasanya dilakukan untuk keperluan bisnis dan wisata. Dengan semakin dikenalnya kedua negara oleh masyarakat masing-masing, diharapkan perkembangan dan potensi kedua negara dapat dimanfaatkan untuk kerja sama yang lebih jauh dan saling menguntungkan melalui kerja sama bisnis, perdagangan, dan investasi.

Total perdagangan Indonesia dan Kolombia tahun 2007 sebesar USD 112,8 juta, meningkat 11,4% menjadi USD 171,5 juta di tahun 2011. Untuk periode Januari-Juni 2012 telah mencapai USD 95,39 juta, meningkat 43,5% dibanding periode yang sama tahun 2011 sebesar USD 66,47 juta. Ekspor Indonesia periode Januari-Juni 2012 sebesar USD 88,45 juta meningkat 57,9% dibanding periode yang sama tahun 2011 yaitu sebesar USD 55,99 juta. Sementara impor dari Kolombia periode Januari-Juni 2011 sebesar USD 10,47 juta dan periode yang sama tahun 2012 sebesar USD 6,95 juta. Indonesia mengalami surplus perdagangan dengan Kolombia sebesar USD 81,49 juta.

Ekspor komoditas utama Indonesia ke Kolombia adalah minyak kelapa sawit, karet, suku cadang elektronik, tekstil, dan alas kaki. Beberapa komoditas yang diekspor ke Kolombia namun masih terkena tarif masuk yang cukup tinggi adalah motorcycle (termasuk mopeds) sebesar 30%, minyak kelapa sawit 20%, alat tulis pensil dan krayon 15%, dan sabun organik 15%. Sementara impor dari Kolombia ke Indonesia adalah obat-obatan, scrap (bahan baku industri baja), dan chemical.

Kolombia menjadi salah satu negara di Amerika Selatan yang memiliki pasar dan investasi menarik untuk Indonesia. Kolombia merupakan salah satu anggota ANDEAN (negara-negara yang dekat dengan pegunungan Andes) yang anggotanya Ekuador, Peru, Venezuela, dan Bolivia. Negara-negara yang tergabung dalam ANDEAN saat ini merupakan 50% dari kekuatan ekonomi di Amerika Latin. Pasar yang besar ini memberikan kesempatan bagi para pengusaha Indonesia untuk memasarkan produknya.

2. Indonesia hentikan sementara impor garam.

“Kementerian Perdagangan telah menghentikan impor garam konsumsi sejak tanggal 30 Juni 2012,” demikian ditegaskan oleh Plh. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Gunaryo hari ini, Jumat (14/9), di kantor Kementerian Perdagangan.

Menurut Gunaryo, kurang tepat jika impor dituding sebagai penyebab utama rendahnya harga garam di tingkat petani, terutama pada bulan-bulan terakhir ini, karena Pemerintah sama sekali tidak memberikan izin untuk impor garam konsumsi pada masa panen. “Ini komitmen kami dalam melindungi produksi garam dalam negeri dan meningkatkan kesejahteraan para petani garam,” jelasnya.

Penghentian impor garam tersebut sesuai dengan keputusan Rapat Koordinasi Tim Swasembada Garam Nasional (terdiri dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian serta Kementerian Kelautan dan Perikanan) pada 16 Februari 2012 yang menyatakan bahwa periode impor garam konsumsi tahun 2012 dimulai pada bulan Maret sampai dengan Juni 2012.

Dalam pertemuan tersebut ditetapkan bahwa alokasi impor garam konsumsi nasional tahun 2012 sebesar 533.000 ton dibagi ke dalam dua tahap, yaitu tahap pertama (Maret-April 2012) sebesar 300.000 ton dan tahap kedua (Mei-Juni 2012) sebesar 233.000 ton.

Kemudian berdasarkan rekomendasi dari Kementerian Perindustrian, Kemendag mengeluarkan pengakuan sebagai Importir Produsen (IP) Garam Konsumsi untuk melakukan impor tahap pertama sebesar 290.500 ton dengan realisasi sebesar 266.641 ton dan tahap kedua sebesar 242.500 ton dengan realisasi sebesar 228.432 ton.

Pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai penghentian impor garam melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 58/M-DAG/PER/9/2012 tentang Ketentuan Impor Garam. Permendag tersebut menetapkan masa larangan impor garam konsumsi dimulai dari bulan Juli (satu bulan sebelum masa panen raya) sampai dengan Desember 2012 (dua bulan setelah masa panen raya).

Untuk tahun 2012 ini, penetapan masa panen raya mengacu kepada surat Menteri Perindustrian No. 271/M-IND/7/2012 tanggal 5 Juli 2012 yang menetapkan bahwa Masa Panen Raya Garam Rakyat tahun 2012 jatuh pada bulan Agustus, September dan Oktober 2012. Namun yang perlu diperhatikan, kata Gunaryo, adalah masa larangan impor garam ini berlaku hanya untuk garam konsumsi, bukan garam industri. Garam industri dikecualikan dari masa larangan karena memiliki spesifikasi khusus yang belum dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri, sehingga seluruhnya masih dipenuhi dari impor.

Sementara itu terkait dengan harga garam, Kemendag melalui Peraturan Dirjen Perdagangan Luar  negeri Nomor 02/DAGLU/PER/5/2011 tanggal 5 Mei 2011 menetapkan bahwa harga penjualan garam di tingkat petani garam minimal Rp. 750/Kg (dari sebelumnya Rp. 325/Kg) untuk garam kualitas 1 dan minimal Rp. 550/Kg (dari sebelumnya Rp. 250/Kg) untuk garam kualitas.

Pemerintah juga berkomitmen untuk mendorong penyerapan garam rakyat oleh IP Garam Konsumsi dengan mengeluarkan Permendag Nomor 58/M-DAG/PER/9/2012. Berdasarkan Permendag tersebut, IP Garam Konsumsi wajib melampirkan bukti serap minimal 50% dari perolehan garamnya untuk mendapatkan izin impor garam.

“Dalam upaya mengoptimalkan penyerapan garam rakyat, pemerintah telah melakukan pertemuan pada tanggal 8 Agustus 2012 di Kemendag dan 9 Agustus 2012 di Kemenperin untuk menentukan target penyerapan garam rakyat tiap tahunnya oleh IP Garam Konsumsi. Hasil dari pertemuan tersebut, para importir sepakat untuk melakukan penyerapan garam rakyat tahun 2012,” imbuh Gunaryo.

Sebelum tahun 2004, impor garam dapat dilakukan dengan bebas dalam jumlah yang tidak terbatas karena Pemerintah belum mengatur tata niaganya. Namun setelah tahun tersebut, Menteri Perindustrian dan Perdagangan mengeluarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 360/MPP/Kep/5/2004 Jo. Nomor 376/MPP/Kep/6/2004 tentang Ketentuan Impor Garam untuk melindungi produksi garam dalam negeri dan meningkatkan kesejahteraan petani garam. Berdasarkan ketentuan tersebut garam hanya dapat diimpor jika produksi dalam negeri tidak mencukupi.

Keputusan tersebut kemudian disempurnakan dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20/M-DAG/PER/9/2005 Jo. Nomor 44/M-DAG/PER/10/2007 tentang Ketentuan Impor Garam yang menegaskan bahwa yang dapat melakukan impor garam adalah Importir Produsen Garam Iodisasi, Importir Produsen Non Iodisasi, dan Importir Terdaftar Garam (IT-Garam).

Setelah melalui pembahasan interdep, Pemerintah memutuskan untuk menerbitkan peraturan baru yang berlaku hingga saat ini, yaitu Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 58/M-DAG/PER/9/2012 mengenai Impor Garam. Melalui peraturan tersebut, istilah garam iodisasi diubah menjadi garam konsumsi dan garam non iodisasi menjadi garam industri. Selain itu, semua pihak yang terkait importasi garam mulai dari tingkat Kementerian hingga petani garam dilibatkan dalam alur importasi garam.

3.  Indonesia – Ekuador Intensifkan Kerja Sama Perdagangan

Kota Quito, Ibukota Ekuador merupakan kota ketiga yang dikunjungi dalam rangka misi dagang dan pertemuan bisnis Indonesia-Amerika Latin dan Tengah setelah Panama dan Kolumbia yang dipimpin Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional, Gusmardi Bustami. Forum Bisnis di Quito yang diselenggarakan pada 13 September 2012 dibuka oleh Duta Besar RI untuk Ekuador, Saut Maruli Gultom dan dihadiri sekitar 40 peserta yang mewakili perusahan-perusahan Ekuador antara lain di bidang tekstil, kopi, karet, agrobisnis, otomotif, kertas, dan pariwisata.

Indonesia membuka kantor Kedutaan di Quito sejak 11 November 2010, namun telah memiliki hubungan diplomatik dengan Ekuador sejak 29 April 1980. “Ekuador merupakan salah satu mitra dagang Indonesia di kawasan Amerika Selatan. Hubungan dagang Indonesia- Ekuador saat ini terus tumbuh, dari USD 44,2 juta di tahun 2007 menjadi USD 96,6 juta pada tahun 2011, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 19,8% per tahun. Perdagangan kedua negara dapat terus tumbuh mengingat potensi besar yang ada pada kedua negara,” kata Gusmardi.

Deputy Vice Minister of Trade Ekuador, Roberto Betancourt Ruales menyampaikan bahwa semangat Forum Bisnis ini adalah meningkatkan kerja sama bilateral kedua negara untuk mulai memperkuat kerja sama ke arah ekonomi global secara lebih visible. Hubungan tidak hanya dilakukan di sektor perdagangan saja, juga bidang lainnya seperti pariwisata, investasi, dan perikanan.

Ekuador merupakan negara pengekspor pisang nomor satu di dunia. Indonesia dapat bekerja sama di bidang ini, khususnya teknologi bagaimana memproduksi buah Pisang yang berkualitas tinggi dan tahan lama. Perlu diintensifkan pertemuan melalui diskusi dan seminar antara Indonesian-Ecuadorian untuk saling bertukar informasi di berbagai bidang untuk meningkatkan kerja sama ekonomi. Ekuador berharap bisa belajar dari Indonesia tentang teknologi pengolahan Palm Oil serta berharap bisa membuka Ecuadorian Office di Indonesia untuk mendukung peningkatan kerja sama ekonomi kedua negara.

Pada kesempatan dialog di Kantor Kementerian Hubungan Luar Negeri dan Perdagangan Ekuador, hadir Direktur Perdagangan dan Investasi, Patricio Salazar. Dirjen PEN yang didampingi Dubes RI untuk Ekuador menyampaikan kondisi terkini Ekonomi Indonesia serta mengharapkan total nilai perdagangan Indonesia yang masih berkisar 5-6% ke kawasan Amerika Latin dapat ditingkatkan. Untuk itu, ke depan akan diintensifkan komunikasi dengan memediasi pelaku usaha Indonesia dan Ekuador.

Ekuador memandang Indonesia sebagai platform yang sangat penting dan pengusaha Ekuador ingin menjadikan Indonesia sebagai mitra di Asia. Demikian sebaliknya, Indonesia juga dapat melihat Ekuador sebagai mitra di Amerika Latin. Dalam kerja sama antar kedua negara, Indonesia tidak hanya melihat Ekuador sebagai sebuah negara saja, namun keseluruhan Amerika Latin. Ekuador dapat menjadi pintu masuk bagi ekspor Indonesia ke negara-negara yang tergabung dalam Aliansi ALBA yang anggotanya Antigua dan Barbuda, Bolivia, Kuba, Dominika, Ekuador, Nikaragua, Saint Vincent dan Grenada, dan Venezuela, yang menggunakan sistem SUCRE, yaitu sistem pembayaran dengan menggunakan mata uang setempat. Sistem ini bisa menjadi insentif bagi pengusaha Indonesia yang akan bermitra di Ekuador.

Wakil Menteri Bidang Perdagangan Ekuador berencana akan berkunjung ke Indonesia pada Oktober 2012. Pemerintah Ekuador berkomitmen untuk mengirimkan lebih banyak pengusaha ke Indonesia untuk mengeksplorasi peluang bisnis dengan Indonesia termasuk menghadiri Trade Expo Indonesia 2012.

Total perdagangan Indonesia dan Ekuador tahun 2011 mencapai USD 96,62 juta meningkat 37,1 % dibanding tahun 2010 sebesar USD 70,19 juta. Sementara pada periode Januari-Juni 2012 sebesar USD 38,86 juta, masih belum mencapai kondisi yang sama dibanding periode yang sama tahun 2011 yang sebesar USD 50,58 juta (menurun 23,1%). Ekspor Indonesia periode Januari-Juni 2012 sebesar USD 35,64 juta, sedangkan periode yang sama tahun 2011 mencapai USD 48,24 juta. Impor dari Ekuador periode Januari-Juni 2011 sebesar USD 2,35 juta dan periode yang sama tahun 2012 sebesar USD 3,23 juta. Tahun ini periode Januari-Juni Indonesia masih surplus perdagangan dengan Ekuador sebesar USD 32,4 juta.

4. Afrika, tujuan ekspor non tradisional Indonesia

Indonesia kembali melakukan kegiatan misi dagang ke benua Afrika. Kali ini, kunjungan dilakukan pada 9-16 September 2012 ke negara Kenya dan Tanzania, dan dipimpin oleh Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Deddy Saleh. “Kunjungan ini bertujuan untuk mengeratkan kembali hubungan Indonesia dengan Kenya dan Tanzania yang sejak tahun 1955 telah memiliki sejarah hubungan politik dan ekonomi sebagai sesama negara anggota Gerakan Nonblok,” ujarnya.

“Melalui kunjungan ini, diharapkan dapat dijajaki peningkatan hubungan ekonomi dan investasi kedua negara. Informasi yang diperoleh dari pemerintah maupun dunia usaha Afrika akan sangat mendukung upaya kita melakukan promosi dan penetrasi pasar dan produk di negara-negara tersebut,” jelas Dirjen Perdagangan Luar Negeri yang dalam kunjungannya didampingi oleh Staf Ahli Menteri Bidang Diplomasi Perdagangan Herry Soetanto, Direktur Pengembangan Produk Ekspor dan Ekonomi Kreatif Dody Edward, serta Direktur Ekspor Hasil Industri dan Pertambangan Thamrin Latuconsina.

Di kedua negara tersebut, Kementerian Perdagangan yang didukung oleh masing-masing Kedutaan Besar RI menyelenggarakan serangkaian kegiatan berupa Business Forum, Working Visit, dan One-on One Business Meeting antara delegasi bisnis Indonesia dengan para pengusaha Kenya dan Tanzania.

Dirjen Daglu berharap para pengusaha Kenya dan Tanzania bisa mendapatkan gambaran terbaru mengenai perkembangan perekonomian, peluang dan potensi investasi Indonesia sehingga ke depan dapat meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi antara Indonesia dan kedua negara tersebut.

Pada kunjungan di Nairobi, Kenya, rombongan Kementerian Perdagangan diterima langsung oleh Menteri Perdagangan Republik Kenya, Moses Wetangula. Mendag Kenya menyatakan bahwa kunjungan tersebut sebagai salah satu upaya meningkatkan kerja sama dengan Indonesia mengingat kedua negara memiliki peluang di bidang perdagangan dan investasi yang saling menguntungkan namun belum dioptimalkan oleh kedua belah pihak. Peluang tersebut antara lain di bidang karet, otomotif, serta produk makanan dan minuman.

Beberapa peluang ekspor yang dapat dimanfaatkan oleh dunia usaha Indonesia untuk memasok kebutuhan pasar di Afrika antara lain; produk-produk pendukung sektor infrastruktur (Gen-Set, rangka baja, kawat baja, kabel listrik, kaca/jendela untuk kantor/rumah, ubin keramik, marmer, rangka pintu, pintu jadi, lampu rumah, lampu jalan, serta spare-parts alat-alat berat). Selain itu, bidang otomotif di Afrika merupakan peluang yang dapat ditindaklanjuti mengingat jumlah bengkel terus tumbuh secara signifikan dan biaya servis mobil yang cukup tinggi. Kebutuhan bengkel-bengkel itulah yang kiranya dapat dipenuhi oleh Indonesia, antara lain berbagai keperluan perawatan mobil, aksesoris mobil, suku cadang, dan accu.

Dalam rangkaian kunjungan misi dagang tersebut, turut serta perwakilan dari PT. Wilmar, yaitu salah satu perusahaan yang bergerak di bidang agribisnis dan pengolah terbesar palm oil, lauric oil, dan penghasil biodiesel terbesar di dunia serta telah membuka pengolahan kelapa sawit di Nigeria. Dengan keikutsertaan PT. Wilmar, tentunya diharapkan dapat menarik minat para pengusaha dan investor setempat untuk melakukan pengembangan bisnis dengan Indonesia.

Staf Ahli Mendag Bidang Diplomasi Perdagangan Herry Soetanto menjelaskan, selain kunjungan ke Menteri Perdagangan Kenya dan Wakil Menteri Perdagangan dan Industri Tanzania, rombongan juga melakukan kunjungan ke beberapa industri strategis di kedua negara untuk menjajaki kerja sama di bidang investasi. Pada business forum, pihak Kemendag juga mensosialisasikan kegiatan Trade Expo Indonesia (TEI) 2012 yang akan berlangsung pada 17-21 Oktober 2012 di Jakarta. Pihak Kemendag menjelaskan fasilitasi yang akan diberikan kepada para buyer serta gambaran secara utuh terhadap potensi produk ekspor Indonesia yang berkualitas dan sangat kompetitif dibandingkan dengan negara pesaing lainnya. Melalui kegiatan tersebut diharapkan akan banyak buyer dari kedua negara yang tertarik untuk mengunjungi TEI 2012.

“Sekalipun ini merupakan kunjungan penjajakan, dari hasil diskusi dengan pemerintah, KADIN, asosiasi dan pengusaha di kedua negara, dapat dilihat besarnya keinginan masing-masing pihak untuk mempererat dan meningkatkan hubungan kerja sama kedua negara yang setara dan saling menguntungkan. Oleh karena itu, kunjungan kedua negara tersebut perlu dilakukan secara reguler baik oleh kalangan bisnis maupun melalui Joint Commision antar pemerintah,” ujar Deddy Saleh.

Sebagai negara tujuan ekspor Indonesia ke-43, selama periode 2007-2011 neraca perdagangan Indonesia dan Kenya menunjukkan pertumbuhan sebesar 64,77 persen, dengan nilai mencapai USD 264,71 juta pada tahun 2011. Nilai ekspor nonmigas Indonesia pada tahun 2011 mencapai USD 285,33 juta, dengan pertumbuhan selama lima tahun terakhir mencapai 46,89 persen. Adapun produk ekspor utama Indonesia ke Kenya diantaranya CPO, industrial monocarboxylic fatty acid, yarn, refrigerators, freezers serta paper and paper products. Sedangkan impor Indonesia ke negara ini mencapai USD 25,73 juta pada tahun 2011, yang terdiri dari carbonates, tea, sheep or lamb skins, cotton dan produk-produk farmasi. Meskipun impor Indonesia ke Kenya masih relatif kecil, namun selama lima tahun terakhir tumbuh sebesar 21,23 persen.

Demikian pula dengan Tanzania, neraca perdagangan kedua negara selama lima tahun terakhir menunjukkan surplus bagi Indonesia sebesar 57,89 persen dan pada tahun 2011 nilainya mencapai USD 206,65 juta. Sebagai mitra dagang ke-41, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke negara tersebut pada tahun 2011 mencapai USD 298,57 juta, dengan pertumbuhan sebesar 48,94 persen selama lima tahun terakhir. Produk ekspor utama Indonesia ke Tanzania di antaranya CPO, industrial monocarboxylic fatty acid, soap, electric storage batteries, refrigerators dan freezers. Adapun impor Indonesia ke Tanzania antara lain cloves, cotton, tobacco, peanuts dan vegetables, dengan nilai mencapai USD 91,92 juta pada tahun 2011 dan pertumbuhan sebesar 41,76 persen selama lima tahun terakhir.

Produk-produk Indonesia yang potensial untuk dipasarkan di kawasan Afrika termasuk Kenya dan Tanzania, antara lain minyak sawit, karet, kendaraan bermotor dan suku cadangnya, teh, kopi, kakao, kertas, kulit, kelapa kopra, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, furnitur, kerajinan tangan, obat-obatan, produk kesehatan, produk perawatan bayi, produk kecantikan, produk makanan dan minuman, lemari es, pakaian, baterai, mesin, sayuran minyak, kertas dan karton, industrial monocarboxilate, acid phosphoric, dan builder joinery.

5. Bursa AS terkoreksi, ambil untung sesaat.

Bursa saham AS berakhir menurun dalam perdagangan di hari Senin (17/09) sebagai penurunan yang pertama dalam lima perdagangan terakhir ini paska kenaikan indek ke puncak tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Aksi ambil untung yang terjadi dipasar memang tidak cukup semarak, masih banyak investor yang percaya dengan efek lanjutan kebijakan the Fed yang diambil pekan lalu akan berdampak bagi kenaikan indek saham lebih tinggi kembali. Beberapa pialang besar justru melakukan aksi beli ditengah koreksi ini.

Indek saham Dow Jones turun 40.27 poin atau menurun 0.3%, berakhir di level 13,553.10, dimana saham Bank of America Corp. dan Alcoa Inc.menjadi pemimpin koreksi yang terjadi bersama dengan 19 emiten lain dari 30 komponen dalam indek ini.

Emas sesi sebelumnya, termasuk sesi dimana The Fed mengumumkan kebijakan untuk menggulirkan QE3 pada Kamis kemarin mencatatkan kinerja Indek Dow Jones naik dan akhir pekan kemarin ditutup pada level tertingginya sejak 10 Desember 2007.

Pada setiap penurunan harga yang terjadi, langsung dibalas dengan aksi beli kembali. Disisi lain sebagian pelaku pasar melihat perjalanan kenaikan indek ini masih cukup panjang dengan berbagai latar berita makro ekonomi AS termasuk pemilihan Presiden November nanti. Diperkirakan indek bursa masih akan naik kembali.

Indek S&P 500 turun 4.58 poin atau sebesar 0.3%, ke 1,461.19, dimana saham-saham sumber daya alam dan tambang beserta keuangan menjadi yang menggerakkan penurunan indek ini disisi lain saham-saham telekomunikasi dan layanan kesehatan justru bertahan bahkan naik.

Indek Nasdaq menurun 5.28 poin atau turun sebesar 0.2%, ke 3,178.67.

6. Minyak mentah turun atas spekulasi pelepasan cadangan minyak strategis

Harga minyak mentah dalam perdagangan komoditi di hari Senin berakhir menurun setelah beredar isu mengenai rencana pelepasan cadangan minyak strategis AS.

Setelah menguat diawal perdagangan, harga minyak berlangsung surut dalam perdagangan tarik menarik yang didukung dengan isu memanasnya kondisi politik di Timur Tengah serta aksi ambil untung sebagian investor.

Harga minyak mentah dibulan Oktober berbalik menurun $2.38, atau turun sebesar 2.4%, ke harga penutupan di $96.62 per barel dalam bursa New York Mercantile Exchange. Menghentikan laju kenaikan selama dua minggu ini dan mencetak ke harga penutupan terendah dalam sepekan terakhir perdagangan ini.

Jatuhnya harga minyak di bursa Nymex diatas $4 dalam 20 menit menjelang penutupan pasar sangat dramatis, menyentuh harga terendah di $94.65 per barel. Meski demikian, secara teknis tidak ada isu yang cukup substansial untuk membuat pasar jeblok. Harga minyak justru cenderung naik dengan dorongan kenaikan bursa saham dan pasar komoditi akibat kebijakan The Fed pekan lalu. Kenaikan harga minyak ini bahkan melampui $100 diperdagangan Jumat lalu, terlebih dengan kondisi geopolitik di Timur Tengah dan potensi gangguan distribusi di Afrika Utara.

7. Emas ditutup menurun ditengah upaya melaju.

Emas dalam perdagangan hari Senin (17/09) berakhir menurun setelah dua hari sebelumnya melejit paska keputusan The Federal Reserve yang melakukan pembelian Obligasi kembali.

Untuk kontrak emas dengan pengiriman bulan Desember, harganya turun $2.10, atau 0.1%, ke harga $1,770.60 per ons di bursa Comex – New York Mercantile Exchange. Harga logam ini pada minggu lalu sempat naik 1.9% atas keputusan the Federal Reserve yang menggulirkan QE3 sehingga mendorong pembelian emas untuk mengantisipasi inflasi.

Meski menurun, namun hal ini diyakini bukan substansi utama. Bersifat temporer sebagai konsekuensi kenaikan tajam dan kemudian melakukan koreksi secara teknikal. Pasar masih cukup tegar untuk naik kembali menghabiskan bahan bakar dari kebijakan The Fed yang di siramkan minggu kemarin.

Pembelian emas masih akan marak mengingat fungsi emas yang akan digunakan melawan inflasi dan mengamankan investasi investor ditengah penurunan nilai tukar Dolar. Likuiditas pasar yang naik mendorong investor juga berani melakukan risk appetite dengan membeli asset-aset yang lebih beresiko, dalam hal ini saat emas sebagai komoditi maka emas juga menjadi pilihan investor untuk meraih keuntungan. Setidaknya hingga semester pertama tahun 2013, emas masih menjadi primadona.

Dolar AS sendiri tidak banyak memberikan arahan bagi pergerakan Emas saat ini, indek Dolar AS memang naik ke 79.013, dari sebelumnya di 78.864. Dolar yang secara mayoritas jatuh dengan kebijakan The Fed tersebut akan membuat investor dari negara dengan denominasi bukan Dolar AS makin bergairah.

Sentimen lain yang dianggap mempengaruhi pergerakan pasar emas adalah tingkat konsumsi emas Cina. Kenaikan yang terjadi di bursa Cina sedikit memberikan ruang bagi pedagang untuk menahan diri dalam emas.

8. Iran yakin minyak kembali ke $150 per barel.

Harga minyak mentah dalam perdagangan komoditi di hari Senin berakhir menurun setelah beredar isu mengenai rencana pelepasan cadangan minyak strategis AS. Sempat naik kemudian tarik menarik oleh isu memanasnya kondisi politik di Timur Tengah serta aksi ambil untung sebagian investor.

Meski jatuh ke harga $96.62 per barel bahkan sempat menyentuh harga terendah di $94.65 per barel namun demikian, secara teknis tidak ada isu yang cukup substansial untuk membuat pasar jeblok. Harga minyak justru cenderung naik dengan dorongan kenaikan bursa saham dan pasar komoditi akibat kebijakan The Fed pekan lalu. Kenaikan harga minyak ini bahkan melampui $100 diperdagangan Jumat lalu.

Demonstrasi sebagai respon Film Innocence of Muslim, dibeberapa negara Islam di Timur Tengah dan Asia masih berlanjut hingga kemarin. Aksi-aksi demonstrasi tersebut di tujukan ke kedutaan AS serta perwakilan Barat di wilayah tersebut. Kondisi yang memanas ini dianggap bisa memicu gangguan produksi dan distribusi minyak.

Disisi lain, konflik kawasan yang meningkat antara Cina dan Jepang yang memperebutkan kepulauan di lautan Cina Timur juga menjadi pendorong memanasnya geopolitik global selama pekan kemarin. Protes anti Jepang menguat di Cina.

Sebagaimana diyakni pada minggu lalu, bahwa harga minyak saat ini yang sudah membumbung tinggi, bagi Arab Saudi dan negara-negara OPEC dikatakan sudah tidak bisa mencerminkan pasar lagi. Mengacu pada produksi minyak OPEC yang dikatakan bisa mencukupi kebutuhan minyak Global, maka kenaikan harga minyak saat ini bukan lagi merunut pada mekanisme pasar, namun factor diluar seperti politik dan keamanan.

Setidaknya hingga terjadi koreksi yang cukup besar di bursa saham atau sebuah data yang menunjukkan jatuhnya permintaan minyak yang cukup tajam maka harga minyak belum yakin akan turun. Minggu ini dengan kondisi geopolitik yang demikian hangat, minyak mentah diperkirakan akan kembali bertenger diatas $100 per barel. Tidak seperti waktu-waktu yang lalu, kondisi lingkungan saat ini masih kondusif, ditengah risk appetite para investor atas asset yang lebih beresiko, kondisi Geopolitik makin memanaskan pasar.

Secara khusus, Iran bahkan memperkirakan harga minyak mentah akan kembali ke $150 per barel. Jumat lalu, Muhammad Ali Khatibi, perwakilan Iran di Organization of Petroleum Exporting Countries, menyatakan  bahwa tingginya harga minyak saat ini memang terlihat, namun demikian hal ini tidak bisa disalahkan sebagai duri dalam pemulihan perekonomian global. Para ekonom sendiri memang meyakini bahwa tingginya harga minyak memang menjadi sandungan bagi pemulihan ekonomi AS dan beberapa negara yang saat ini dihantam krisis ekonomi.

Khatibi bahkan menambahkan bahwa harga saat ini masih murah dilihat harga diawal tahun ini yang mencapai $127 per barel di bulan Maret. Kondisi saat ini juga tidak bisa disamakan lagi dengan kondisi lima atau enam tahun lalu, mengingat inflasi dan perbuahan nilai tukar mata uang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s