Perahu Kertas; sebuah monumen bagi perasaan-perasaan sendiri


Membuat film adaptasi novel merupakan tantangan? Awalnya ya, tapi kemudian menjadi hal yang biasa. Bahkan sudah memuakkan buat saya. (Hanung Bramantyo)

Penonton film adaptasi novel adalah pembaca novel. Mereka datang ke gedung bioskop tidak sekedar  menonton film; Mengapresiasi ceritanya, alur, konstruksi dramatik, cinematografy ataupun acting aktor aktrisnya. TAPI, Penonton datang ke bioskop untuk melakukan kroscek.  Penonton menjadi polisi yang melakukan investigasi sekaligus hakim bagi filmnya. ‘apakah filmnya sesuai dengan novel yang saya baca?’, ‘apakah pemainnya sesuai  bayangan saya?’, ‘apakah lokasinya se-eksotis yang saya imajinasikan?’, ‘apakah alur ceritanya berubah?, ‘Jangan-jangan bagian ini dibuang, atau … oh tidak. Rupanya ada tokoh atau lokasi  yang sebetulnya tidak ada di novel, tapi kenapa … ??? OH!!!!’

Dalam teorinya, media cetak, sebut saja buku, majalah, novel, skenario, dokumen memungkinkan pembaca memanfaatkan daya imajinasi dalam diri mereka secara liar, kreatif dan independent. Bahkan, Pembaca berhak menghentikan kapan dia memulai membaca, men-jeda sejenak, atau menghentikan sama sekali apa yang dia baca. Ketika teks melakukan transformasi kedalam visual, sebutlah Film (atau FTV, Sinetron, Dokumenter, Animasi) maka pembaca menjadi individu yang pasif.  Dia menjadi dependent, tidak Independent. Keliarannya tercekat. Imajinasinya luluh meleleh dalam imaji sutradara, penulis skenario adaptasi, produser, aktor, tata cahaya, musik, dan sebagainya.  Film juga tidak memberikan ruang buat penonton untuk men-Jeda semenitpun. Film harus menggelinding dari detik pertama hingga ribuan detik kesekian. Tidak heran jika penonton menjadi kecewa ketika independensi kreatifnya, keliaran saat dia membayangkan teks-teks yang berlompatan di kepala mereka seakan tidak sama dengan yang dia lihat dalam karya Film.

Untuk kesekian kalinya, saya berkutat dalam kondisi itu.  
Seperti halnya karya novel lainnya, sebutlah Jomblo, Ayat-Ayat Cinta, ataupun Perempuan Berkalung Sorban, Perahu Kertas berada dalam situasi yang sama. Yaitu sama-sama cerita yang diminati pembaca. Dengan begitu, ada asumsi kuat bahwa ketika karya tersebut di- filmkan, maka akan mendatangkan banyak penonton di gedung bioskop. Kondisi ini mendadak menjadi sangat ideal.  Faktanya memang film-film yang berangkat dari Novel selalu laris manis di pasaran. Fakta ini pula yang pada akhirnya menjadi jawaban atas kondisi film Indonesia yang saat ini sedang mengalami krisis kepercayaan dari penontonnya sendiri.

Well, mari kita bicara tentang film adaptasi ini.

Sebagaimana yang sudah saya katakan dalam beberapa wawancara dengan media lain, awalnya saya tidak ada passion terhadap novel ini. Novel ini (lagi-lagi) bicara tentang CINTA.  Lengkapnya adalah, sebuah drama hubungan cinta dua manusia yang terhalang oleh keadaan sehingga cinta itu tidak bisa terkatakan dengan sempurna. Kemudian menggantung. Bimbang. Pada akhirnya pedih. Resep cinta kadaluwarsa sejak jaman Rano Karno dan Yessy Gusman seakan tidak pernah habis-habisnya digarap diulang-ulang. Anehnya, penonton masih Horny saja. Dalam Jomblo gambaran cinta seperti ini sudah muncul dalam hubungan Agus Gurniwa (Agus Ringgo) dengan Rani (Nadia Safira). Pada Ayat-Ayat Cinta juga hadir dalam episode kemelut kasih asmara Maria (Carrisa Putri) dengan Fahri (Fedi Nuril) yang berakibat poligami. Kemudian dalam Perempuan Berkalung Sorban juga melengkapi tragedi cinta yang tak kesampaian antara Anissa (Revalina S Temat) dan Lek Khudori (Oka Antara). Lalu drama apa lagi yang mau disampaikan di Perahu Kertas?
Tidak ada yang baru buat saya.  Lebih parah. Semua adalah sebuah repitisi dengan kemasan yang berbeda. Lalu kenapa saya harus membuat film ini?

Barangkali saya harus mengakui, bahwa membuat karya film tidak selalu membutuhkan alasan orisinal dan intelektual. Demikian halnya dengan alasan film ini. Bagi saya sebuah Film (juga karya tulis, lukis dan musik) bisa juga menjadi  sebuah oase.  Sebuah tempat istirahat untuk melanjutkan perjalanan panjang.  Sejujurnya, saya lelah berkutat dengan tema-tema besar tentang pluralitas, toleransi agama, feminisme, sejarah pergerakan dan pemikiran. Saya ingin sesuatu yang sederhana.  Maka ketika Novel Perahu Kertas hadir di meja kerja saya, segera menjadi hal baru buat saya.


Ketika saya membaca Perahu Kertas, saya seperti berada dalam mesin waktu yang diputar mundur saat saya masih kuliah. Seiring dengan waktu yang kadang berjalan tak beraturan, saya masuk dalam perasaan-perasaan yang dulu pernah hinggap. Saya melaju menyusuri memori-memori lama. Tentang cinta, hubungan, kesetiaan, keterbukaan, kejujuran atas perasaan-perasaan sendiri.  Perahu Kertas membawa saya mengarungi semua itu hingga segala tentang orisinalitas, citra rasa baru, Eureka, menjadi tidak penting.  Awalnya saya selalu mencari hal baru yang passionate. Hal baru itu selalu identik dengan sesuatu yang besar. Mendadak, saya seperti diingatkan kembali untuk merendahkan hati. Menengok pada yang kecil-kecil dan sederhana. Merangkai selembar kertas menjadi sebuah perahu. Lalu dihanyutkan diatas air. Itu saja! Begitulah, Novel Perahu Kertas ini kemudian menjadi artefak buat saya. Menjadi Memori. Monumen bagi perasaan-perasaan saya sendiri yang telah punah dan saya tinggalkan.

Sejujurnya, Perahu Kertas lebih jauh menjadi titik balik saya. Karena film ini tentang memori. Maka,  Saya mereview apa yang sudah saya kerjakan di film-film adaptasi novel sebelumnya. Sayapun mereview ulang kinerja saya sebagai sutradara.  Tentang Estetika, Metafora, Dramatika, sudut pandang, segalanya. Saya seperti menjadi mahasiswa baru di Fakultas Film dan Televisi Institute Kesenian Jakarta.

Menggarap sebuah memori membawa saya pada pergulatan baru. Gairah baru sebagai pekerja film muncul. Dikenal sebagai seni membingkai, Film sejatinya juga sebuah upaya untuk men-dokumentasi-kan peristiwa.  Dari sana saya memaknai peristiwa-peristiwa itu sebagai memori masa lalu. Maka tidak ada upaya dramatisasi apapun dalam film ini. Semua mengalir begitu saja. Rupanya disitulah letak kendala terbesar. Saya tidak menemukan sosok pemain yang bisa bermain seperti air mengalir. Semua seperti robot-robot yang dibentuk oleh industri Televisi. Raut wajah para selebritis, aktor, aktris itu mendadak menjadi palsu. Tuhanku, Dimana para aktor itu? Pekik ku. Selama 4 bulan saya dan Zaskia Adya Mecca (yang kebetulan menjadi casting director) frustasi mencari sosok Keenan, Kugy, Remi dan Luhde.  Setiap pemain dihubungi untuk dicasting. Tidak hanya itu, setiap pemain diminta memerankan peran ganda. Calon pemain Kugy bermain pula menjadi Luhde. Calon Keenan bermain pula menjadi Remi.  Mendadak, semua yang tampaknya sederhana itu menjadi sulit. Kami melakukan bongkar pasang sampai lupa bahwa yang kami hadapi adalah manusia. Akhirnya, setelah perdebatan panjang dan melelahkan kami menemukan Keenan dan Kugy. Dia adalah Adipati dan Maudy Ayunda. Reza Rahadian dipilih memainkan tokoh Remi setelah melakukan casting menjadi Keenan pula.

Lebih dari 4 bulan saya dan tim melengkapi pemain.  Tapi persoalan tidak berhenti di sana. Masing-masing pemain telah terbentuk oleh karakternya sendiri yang jauh dari karakter di Film. Awalnya saya mulai frustasi. Tapi kemudian saya sadar. Bahwa Film ini adalah memori. Maka saya mengembalikan semua ke sana. Saya memposisikan diri menjadi pengamat bagi peristiwa-peristiwa kehidupan di hadapan saya.

Ketika berhadapan dengan Adipati sebagai Keenan, atau Maudy Ayunda sebagai Kugy, juga Reza Rahadian sebagai Remi, saya hanya memberikan ruang bagi perasaan-perasaan mereka untuk tumbuh dan menjelajah sendiri.  Biasanya, saya sangat otoriter atas perasaan-perasaan aktornya. Dalam Ayat-Ayat Cinta saya mendoktrin perasaan-perasaan pemain dengan perasaan-perasaan saya.  Masih terbayang di ingatan saya ketika saya mengikat Rianti Cartwright saat melakukan take vocal sulih suara Aisya agar merasakan kepedihan ketika dipoligami. Saya memindahkan rasa sakit saya ke tubuh Rianti. Tapi di film Perahu Kertas, saya memberikan kebebasan perasaan-perasaan mereka tumbuh. Kugy, Keenan, Remi, Luhde… mereka saya biarkan menjadi perahu-perahu kertas yang hanyut diatas air. Sebagaimana saya terhanyut membaca teks-teks di tiap halaman novelnya.

Saking hanyutnya pada teks-teks yang ditulis Dee Lestari di novelnya, saya sampai protes ketika Dee yang juga menggawangi penulisan skenario filmnya membuang beberapa adegan yang ada di novel. Bahkan, saya selalu membawa novelnya di lokasi shooting untuk memastikan adegan yang ada di script sesuai dengan yang ada di Novel.  Sesuatu yang jarang saya lakukan di film-film adaptasi novel sebelumnya. Saya tidak tahu kenapa tiba-tiba saya menjadi tidak yakin dengan scriptnya, meski yang menulis adalah penulis novelnya sendiri. Saya menjadi paranoid. Lalu tidak percaya diri. Hasilnya, di atas meja editing Film ini menjadi berdurasi 4,5 jam. Hampir semua adegan yang ada dalam novel saya ambil, kecuali adegan pembuka yang bersetting di Amsterdam. Saya dan Cesa David (editor) kebingungan untuk memotongnya. Biar bagaimanapun film ini harus berdurasi 115 menit sebagaimana film-film drama romantik lainnya. Tapi mustahil memadatkan adegan menjadi 115 menit. Banyak adegan terbuang percuma.  Akibatnya, rangkaian plot akan timpang dan melompat. Saya tidak mau. Bangunan Monumen saya menjadi tidak utuh. Anehnya, Dalam durasi yang panjang itu mestinya alurnya akan melelahkan. Tapi kenyataannya saya justru terhanyut dan ingin terus mengikuti. Tiap-tiap adegan menjadi monumen masa lalu yang kadang membuat saya tertawa, cemburu, pedih dan jatuh cinta.

Begitulah, Perahu Kertas hanyut diatas aliran waktu saya.  Hingga tidak sampai hati saya memotongnya. Maka jadilah dalam sejarah filmografi saya, membuat Film Sequel dalam sekali waktu shooting. Perahu Kertas terbagi menjadi dua bagian. Dua bagian itu sama-sama menjadi memori yang sama pentingnya buat saya.

Saya tidak tahu bagaimana reaksi penonton nantinya. Mereka memang berhak protes karena hak imajinasi mereka saya rampas. Tapi, pada akhirnya buat saya itu tidak penting. Film ini sudah menjadi karya baru. Tidak bermaksud untuk melengkapi kekurangan dari novel. Pun tidak mengurangi apa yang sudah ada. Ini medium yang berbeda. Karenanya sebuah tafsir baru tidak bisa terelakkan. Sebuah tafsir bisa saja bebas. Tapi Monumen atas perasaan-perasaan masa silam tetap bisa ditafsirkan tunggal ….. yakni Cinta!

Salam hangat …

Catatan Hanung Bramantyo bagi Film Perahu Kertas

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s