Perahu Kertas, adaptasi kompromi karya Dee dengan industri film


Menurut Dewi Dee lestari, dari semua bukunya yang telah terbit, Perahu Kertas memiliki kedekatan ekstra. Dialah naskah yang paling lama bersama-sama dengannya. Jauh lebih dulu dari Supernova, Madre, dan seterusnya. Tahun 1996, Dewi mulai menulis naskah Perahu Kertas. Saat itu, dia masih duduk di bangku kuliah sebuah perguruan tinggi di Bandung.

Finroll – Tumbuh besar dengan komik Jepang, cerbung majalah, Dee tergila-gila dengan konsep serial. Batin dan otaknya seperti distimulasi ketika harus memikirkan cerita yang berlapis, multigenerasi, dan terjadi dalam kurun waktu yang panjang. Satu waktu, sepotong lirik lagu Indigo Girls, mencuri perhatiannya “Maybe that’s all that we need, is to meet in the middle of impossibility.Standing at opposite poles. Equal partners in a mystery.”

Secuplik lirik itu membuat dia berhenti dan merenung. Membayangkan dua orang manusia yang bertemu di tengah kemustahilan. Dari sanalah, terlahir sosok Kugy dan Keenan. Persahabatan, cita-cita, keluarga, dan cinta, adalah unsur-unsur yang diramu dalam Perahu Kertas. Unsur-unsur yang ada dalam hidup setiap manusia. Kisah ini adalah kisah transformasi Kugy dan Keenan, yang bersama pusarannya, ikut mentransformasi kehidupan orang-orang di sekitar mereka, termasuk orang-orang yang menyakiti dan mereka sakiti. Di atas permukaan sebuah drama, sesungguhnya yang terjadi adalah pertumbuhan. Pendewasaan. Itu yang Dee pahami dari kehidupan ini. Itu pula yang ingin dia ungkapkan lewat Perahu Kertas.

Menurut Dee, dari semua bukunya yang telah terbit, Perahu Kertas-lah yang paling pertama dalam benaknya akan punya format visual. Sejak menuliskannya dari umur belasan tahun, selalu dia bayangkan Kugy dan Keenan kelak akan mengambil “kehidupan” di luar batas kertas dan huruf. Mereka akan menjadi karakter yang berwujud dan bersuara. Persiapan pun diam-diam telah Dee lakukan, termasuk mengikuti workshop penulisan skenario pada tahun 2001. Ketika ditanya kenapa dia ikuti, Dee menjawab dengan yakin: “Karena suatu hari, saya akan menulis skenario dari cerita yang saya buat sendiri.” Dalam benaknya, cerita tersebut tak lain adalah Perahu Kertas.

Karena itulah, tanpa ragu akhirnya Dee menyambut baik tawaran Bentang Pustaka dan Bentang Pictures, yang datang bersamaan menawarkan penerbitan buku dan pembuatan film. Syarat yang dia ajukan sederhana, tapi (mungkin) sebetulnya berat (dan banyak): Dee ingin menulis skenarionya, memilih sutradara, memilih cast, dan menyumbang lagu untuk soundtrack. Untunglah Bentang Pictures tidak mundur karena syarat-syarat tersebut.

Dee pun akhirnya menyadari bahwa dia harus belajar ulang untuk menulis skenario. Belajar dari nol. Buku-buku teori screenplay pun akhirnya dia lalap, termasuk mempelajari naskah-naskah film yang menurut dia bagus, dan dari sanalah akhirnya dia mulai “memutilasi” novelnya sendiri. Kugy dan Keenan ikut mentransformasi dia dari seorang penulis fiksi menjadi penulis skenario. Proses yang menurutnya tidak mudah.

Disisi lain, industri film adalah industri kolektif yang melibatkan begitu banyak suara sebagai pengambil keputusan kreatifnya. Bertolak belakang dengan proses kreatif fiksi yang sepi dan suka-suka sendiri. Dee kali ini harus beradaptasi dengan permintaan banyak orang, kompromi dengan banyak hal. Sebuah adegan harus punya unsur praktis, dari segi pemain, lokasi, artistik, jadi tidak semata-mata idealis. Dee juga belajar luar biasa banyak dari proses ini. Ada kegembiraan, tapi banyak juga keraguan.

Bertemu langsung dengan Hanung Bramantyo adalah momen di mana Dee bisa menemukan titik keyakinannya pada kali pertama. Muncul intuisi bahwa film ini berada di tangan yang tepat. Sebuah novel yang dijadikan film selalu mengemban beban ekstra besar. Ibarat orang kalah sebelum tempur, film berbasiskan novel sejak detik pertama akan berperang dengan film yang duluan ada di teater khayal pembaca. Mereka punya Kugy sendiri, Keenan sendiri, yang kemungkinan besar tidak pernah bisa persis sama dengan yang digambarkan. Hanung tahu itu. Saya tahu itu, semua pemain pun memahaminya tegasnya.

Dee dan Hanung cukup sering berdebat dan berdiskusi, hingga sampailah dia pada kesimpulan: ini adalah Perahu Kertas yang berbeda. Sebagai penulis, Dee juga harus rela menanggalkan Perahu Kertas dalam benak Dee, dan mulai mengapresiasi Perahu Kertas dalam benak Hanung Bramantyo dari Dapur Film, dalam benak Chand Parwez dari Starvision, atau Putut Widjanarko dari Bentang Pictures. Berbeda bukan berarti salah. Berbeda malah bisa jadi lebih indah. Yang paling penting adalah, kerelaan kita untuk berhenti memerangkannya dengan wujud ideal dalam kepala kita semata dan mulai mengapreasi versi orang lain.

Inilah barangkali yang ingin Dee bagi ke pembaca, calon penonton Perahu Kertas versi film. Relakskan benak Anda, mari melihat wujud Perahu Kertas yang mungkin berbeda, tapi simaklah spiritnya. Spirit Perahu Kertas sama dan tidak berubah. Kisah ini bercerita tentang perjalanan hati, transformasi, dari “aku yang memilih” menjadi “aku yang dipilih”. Kisah ini adalah refleksi perjalanan kita semua, yang dengan porsi dan waktunya masing-masing, akhirnya belajar berdamai dengan hidup.

Ketika diundang melihat preview pertama kali, dan lagu Perahu Kertas berkumandang di tengah film, Dee mengakui bahwa dia tak sanggup menahan tangis. Dia menyadari rampungnya sebuah siklus. Diawali dari alam abstrak tempat dia menciptakan kisah Kugy dan Keenan, kini akhirnya dia bisa duduk sebagai penonton. Membiarkan mereka yang berbicara tentang kisah Perahu Kertas kepadanya. Bagi Dee, apa pun parameter kesuksesan yang akan dipakai untuk menilai film ini kelak, Perahu Kertas telah berhasil menyentuh hatinya. Untuk itu, menurutnya telah tergenapilah sudah  dan dia akan keluar dari gedung bioskop dengan senyum lebar, pungkasnya.(@hqeem)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s