Pagelaran Jabang Tetuko, upaya regenerasi penonton wayang.


Jabang Tetuko
“Pro prajurit engkang sampun siogongayahi karti prawiro dalah tamtomo datan mingkur eng prajanji setio marang nuso bongso ngrungkepi Ibu Pertiwi”, Hyme Prajurit Raksasa Giling Wesi.

Saat ini, pergerakan seni pertunjukan di Indonesia sudah sangat mengembirakan, peristiwa kesenian semakin marak terjadi diruang-ruang publik. Hal ini membuat masyarakat luas semakin mudah pula mengakses dan mengapresiasinya. Pertunjukan seni juga semakin berkembang dalam konsep dan ekspresinya, hal ini juga menjadi bukti bahwa masyarakat kita semakin kreatif dan terus bersemangat dalam menggali ide-ide baru, mengeksplorasi gagasan dan terus melakukan inovasi.


Indonesia sebagai negari yang kaya akan budaya dan keragamannya, memberikan sumber inovasi-inovasi pertunjukan pula. Dengan tetap mempertahankan semangat dan nilai-nilai estetis yang bersumber dari budaya tersebut maka pertunjukan-pertunjukan seni kontemporer menjadi jembatan bagi generasi modern dalam mengenal dan memahami sejarah dan transformasi budaya bangsa ini.

Salah satu inovasi pertunjukan seni saat ini, tertuang dalam karya “Jabang Tetuko” yang merupakan perpaduan antara unsur seni pertunjukan tradisional, yaitu wayang orang dan kulit dengan teknologi multimedia yang dikemas secara kontemporer. Dimasa lalu, sebuah pertunjukan wayang orang dan kulit, secara tradisional dilakukan secara terpisah. Dalam pertunjukan ini, dipadukan bagaimana kedua seni tersebut bisa saling melengkapi jalinan cerita yang dibangun. Inovasi dalam pengkayaan tata musik, yang di kemas dengan orkestrasi modern, meski ditampilkan secara langsung atau tidak mengubah format yang lama namun dengan perlengkapan yang beda membuat atmosfir menjadi jauh lebih hidup. Kehadiran-kehadiran inovasi ini membuat pertunjukan Jabang Tetuko, berlangsung selama kurang lebih satu jam setengah telah memberikan pengalaman menonton seni pertunjukan yang beda.

Pertunjukan ini menurut Renitasari, Direktur Program di Yayasan Bakti Budaya Djarum selaku sponsor acara ini menyatakan bahwa melalui pertunjukan ini diharapkan generasi muda saat ini bisa lebih mengenal tentang cerita wayang dan bisa memaknai filosofi agungdalam tiap karakter seta tokoh pewayangannya.Persembahan ini diharapkan pula dapat memmberikan hiburan bagi masyarakat selain juga memberikan apresiasi sebesar-besarnya bagi para seniman di Indonesia.

Sejak awal, Yayasan Bakti Budaya Djarum, memang mendukung insan kreatif Indonesia untuk terus berkarya, menggali potensi dan mengembangkan budaya yang dimiliki Indonesia. Para seniman tersebut, tidak diharapkan berjalan sendiri, dan sejak 1992, Yayasan Bakti Budaya Djarum terus memberikan kontribusinya.

Siapa yang tidak prihatin dengan kenyataan pahitnya kehidupan para seniman Indonesia, himpitan ekonomi seringkali menjadi alasan yang membuat mereka terpaksa meninggalkan dunia kesenian. Fakta bahwa kini jumlah penari wayang orang, tidk lebih dari 150 orang tentu perlu menjadi perhatian seksama. Meski jumlahnya masih lebih besar daripada opulasi Badak Jawa yang tinggal 60 ekor, namun terancam punah seperti Harimau Jawa.

Keprihatinan ini, yang membuat Mirwan Suwarso, dari Saraswati Nusantara merasa gerah dan mendorongnya untuk melirik kembali cerita perwayangan dan menggarapnya untuk konsumsi masa kini. Selaku produser, penulis naskah dan sutradara pertunjukan Jabang Tetuko ini, Mirwan ingin menampilkan pertunjukan wayang dengan konsep kontemporer untuk mengenalkan kisah pewayangan pada komunitas yang tidak mengenal wayang. Oleh karena ingin mencapai tujuan ini, maka Mirwan mengunakan bahasa Indonesia dalam dialog-dialog selama pertunjukan, agar bisa dinikmati dan diapresiasi oleh publik lebih luas.

Inovasi tersebut, membuat animo masyarakat memang naik. Tiket pertunjukan yang dibanderol mulai dari dua ratus ribu hingga hampir satu juta setengah, diserbu pengunjung. Penjualan merchandize, paska pertunjukan juga marak selain buku atau komiknya. Hal yang demikian ini tentu membanggakan.

Pertunjukan Jabang Tetuko ini merupakan yang kedua kalinya, pengunjung yang memadati arena pertunjukan di Hall Senayan City pada Sabtu, (9/7) menunjukkan minat budaya masyarakat masih tinggi, berbondong-bondong kelurga-keluarga Indonesia datang bersama anak-anak mereka, salah satu selebritis nasional, Bucek Deep nampak datang bersama anak-anaknya. Nampaknya tujuan pertunjukan ini untuk meregenarasi penonton tercapai.

Adji Gunawan, dari Saraswati Nusantara merasa berbesar hati dengan hasil yang demikian, ada kebanggaan tersendiri apabila terjadi regenerasi penonton sehingga mereka bisa mengenal budaya wayang orang serta tokoh-tokohnya sebagai alternatif hero. Adji juga berharap bahwa pertunjukkan semacam ini bisa dilakukan secara lebih teratur dan terjadwal dengan demikian, cita-cita ingin menganggakt seni budaya Indonesia sebagai andalan dan alternaif seni budaya di dunia internasional bisa tercapai.

Ensklusifisme wayang sebagai budaya yang hanya milik Jawa nampaknya memang harus dihilangkan. Dunia internasional, melalui badan PBB – UNESCO telah mengakui wayang sebagai warusan budaya tak berbenda dunia. Demi peestariannya, menurut Mirwan, wayang harus bersifat non eksklusif sehingga dapat kembali berkembang hingga merambah ke seluruh pelosok dunia.

Pagelaran “Jabang Tetuko” ini memenag menarik perhatian berbagai kalangan, karena nyaris inovasi ini tidak terpikirkan. Pemanfaatan teknologi multimedia menjadi penunjang pertunjukan yang spektakuler. Perpaduan elemen sinematografi, untuk memperkuat adegan baik pertumpuran maupun penyampaian narasi, justru memperkuat cerita wayang ini. Kelir, yang lazimnya hanya di gunakan pada wayang kulit, diperluas sebagai layar untuk menampilkan sinema. Sementara gerak laku para pemain wayang orang, tidak hanya melulu diatas pentas, namun atraktif hingga ke bangku-bangku penonton, membuat adegan cerita semakin hidup. Orkestrasi pengiring, menggunakan aransemen modern yang tidak menggunakan tembang-tembang atau gamelan-gamelan belaka nampaknya juga ingin mempertegas rasa pertunjukan ini sebagai produk kekinian.

Meski banyak hal-hal yang inovasi dan diluar pakem pewayangan yang ada, namun ‘Jabang Tetuko – The Birth of True Supehero” tetap diapreasisi dan dapat menjadi tontonan yang menghibur sekaligus memberikan tuntunan nilai-nilai ajaran hidup. Menurut Rohmad Hadiwijoyo, ketua Perpadi DKI Jaya, pagelaan ini diharapkan bisa membangun kesadaran masyarakat khususnya generasi muda untuk tidak akan lupa akan budaya luhur bangsa dan melestarikannya.

Gatotkaca

Kisah Jabang Tetuko adalah sebuah kisah klasik pewayangan tentang lahirnya salah satu tokoh wayang ternama ” Gatotkaca”. Alkisah, suatu hari raja raksasa dari Giling Wesi, Kala Pracona terpesona oleh kecantikan putri khayangan, Dewi Supraba. Kemudian dia menyuruh Patih Sekipu untuk melamarDewi Supraba ke Batara Guru penguasa kerajaan Khayangan. Ditolaknya lamaran Kala Pracona oleh Batara Guru, membuat ia murka dan menyerbu kerajaan Khayangan dengan balatentaranya.

Kala Pracona sendiri, bukanlah raja raksasa biasa, dengan kesaktiannya, dia bukan tandingan para dewa-dewa Khayangan. Batara Brahma, Indra dan Bayu kalah melawan Kala Pracona. Ditengah ancaman kekalahan ini, Batara Guru memperoleh petunjuk dari Kaca Trengana, kaca yang bisa menunjukkan kejadian dimasa yang akan datang. Bahwa Kala Pracona, bisa dikalahkan oleh seorang bayi yang lahir dari keluarga Pandawa saat itu, putranya Bima yang bernama Tetuko.

Tetuko sendiri adalah anak Bima dengan Dewi Arimbi, seorang raksasa wanita yang sejak lahir ari-arinya tidak bisa di putus meski telah dicoba oleh Bimoa dengan Kuku Pancanaka-nya. Atas petunjuk Semar, maka Arjuna diminta bertapa untuk mendapatkan senjata yang bisa memutus tali pusar tersebut. Dalam perjalanannya memberikan pusaka Khayangan bernama Kunta dari Batara Guru ke Arjuna, Batara Narada justru salah memberikan pusaka tersebut ke Suryaputra anak Dewa Surya yang sejak lama bertapa meminta pusaka langit. Muslihat Dewa Surya, yang mampu mengendalikan matahari membuat Narada salah memberikan pusaka tersebut. Arjuna yang kemudian berusaha merebut pusaka itu kembali melalui sebuah pertempuran, akhirnya hanya bisa membawa “warangka” atau wadah pusaka tersebut.

Setelah ari-ari Tetuko bisa diputus dengan warangka Kunta, dimana warangka tersebut justru masuk kedalam tubuh jabang bayi, maka Arimbi dan Bima dengan berathati menyerahkan jabang bayi Tetuko kepada Khayangan untuk melawan para raksasa Giling Wesi. Dalam pertempuran ini, Tetuko kalah. Jabang bayi tersebut kemudian dimasukkan kedalam Kawah Candradimuko oleh Kresna dan Batara Guru, didalam kawah bayi tersebut mendapat kesaktian dari semua Dewa-dewa khayangan. Sekeluarnya dari Kawah tersebut, bayi yang langsung tumbuh menjadi seorang ksatria bagus ini, berganti nama menjadi Gatotkaca.Dalam pertempuran selanjutnya, Gatotkaca bisa mengalahkan para raksasa dan membunuh Kala Pracona.

Proses pembuatan pertunjukan Jabang Bayi Tetuko ini sesungguhnya benar-benar unik dan cepat. Menurut Mirwan, dari sebuah gagasan yang terbit saat dia bertemu dengan Ki Dalang Sambowo serta Wayang Orang Bharata, hanya berlangsung selama dua bulan sebelum dipentaskan secara perdana. Mirwan mengajak komposer film Deane Ogden, seorang komposer film Hollywood yang terlbat di film Surrogates, Friday Night Light, dan The Hit List untuk membuat suasana pertunjukan lebih bekesan dinamis dan mendebarkan. Benjamin Rowe, yang sebelumnya sebagai penata laga profesional di film Transpoter 2, Bad Boys 2, 2 Fast and 2 Furios dan Transformer 3 juga diajak kolaborasi menjadi penata aksi pertempuran. Ben, menggabungkan laga pertempuran khas wayang orang yang penuh adegan akrobatik, salto dengan laga wushu. Tidak tanggung-tanggung, timnas Wushu dilibatkan dalam pertunjukkan ini, sehingga sajian pertempuran jadi lebih keren. Bahkan pada pementasan yang kedua, Ben juga menambahkan aksi laga seni bela diri India kuno, Kalaripayattu yang semua pemainnya juga dari India. Alhasil pertunjukkan Jabang Tetuko ini memang spektakuler.

Kumalebet bendera umbul-umbul, awe-awe anggawe pro wadya bolo, sengkut gumrecut ancancut tali wondho, giak gumregah gembiro. (Balada Perang pasukan raksasa Giling Wesi).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s