Dysfashional – bukan sekedar pameran mode belaka.


Bermula atas undangan dari Luxemburg, Ibu kota Eropa untuk Kebudayaan 2007, dibuatlah sebuah acar fesyen namun tidak menampilkan busana sebagai suguhan utama dan justru dunia imajiner fesyen yang memungkinkan sistem ini berfungsi. Demikian pengantar yang dikemukakan oleh kurator pameran Luca Marchetti dan Emanuela Quinz.

Dysfashional, bukan sekedar pemeran fesyen dengan peragaan busana belaka.


Duo kurator ini menghubungi berbagai perancang busana dan seniman seperti Hussein Chalayan, Maison Martin Margiela dan lain lainnya. Mereka melakukan kolaborasi dengan berbagai gaya, artistik dan konsep termasuk dengan BLESS, Raf Simons dan Gaspard Yurkievich.
Babylone, 2009 karya Justin Morin dan Billie Mertens. menggambarkan keaneka ragaman ras dan budaya manusia dari warna rambutnya.

Setelah karya-karya tersebut ditampilkan pada lima edisi negara-negara Eropa yang berbeda, maka tahun ini bersamaan dengan Festival Kebudayaan Peranncis yang ke-7, Printemps Francais karya-kaya tersebut di tampilkan di Jakarta, Indonesia.

Disfashional, yang berakar dari budaya Eropa telah melahirkan sebuah konsep artistik dengan visi dan konteks perkembangan mode dalam dinamikan dan evolusi secara internasional. Saat bertemu dengan konteks mode lokal, tak pelak lagi Dysfashional telah menjelma menjadi sebuah muara budaya mode dan eksperiman antara Asia dan Eropa sehingga menghasilkan karya yang lebih menarik.

safety First, 2007 - Karya Dita Gambiro, menceritakan tentang perlindungan dan pencegahan terhadap invasi budaya-budaya lain dalam pola-pola sosial masyarakat.

Proyek pertemuan mode ini, menurut Inda C. Noerhadi, kurator dari Galeri Nasional Indonesia adalah bukan untuk mendefinisikan kembali arti mode itu sendiri, namun lebih kepada penekanan fenomena-fenomena mode yang lebih penting dalam evolusi aliran-aliran kreatif.

Terdapat 7 karya artsi Indonesia yang dipilih terdiri dari 2 perancang busana dan 5 seniman dengan latar belakang yang berbeda. Melalui dysfashional ini, baik seniman dan pengunjung akan menemukan ruang pameran sebagai sebuah situs, dimana rangkaian dimensi dan petualangan akan terjadi secara dinamis. Perubahan kultural akan mengkomunikasikan siapa mereka, mereka ingin menjadi siapa dan untuk bergaul dengan seniman lainnya.

Le A=Orfanelle,2006 karya Antonio Marras. Instalasi ini menggambarkan keseimbangan antara busana kontemporer dengan tradisional, antara houte cuture dan ready to wear.

Para seniman yang berpartisipasi dalam pameran ini adalah Justin Morin & Billie Martens (Babylone,2009). Hussein Chalayan (Anaesthetics, 2004), Amier Dicke (Effacement, 2008), Ruang Rupa (Project T710,2010), Gaspard Yurkievich & Florence Doleac (Peau d’Housse, 2001), Jay Subyakto & Stella Rissa (Bosex, 2011), Parasite ( Pop up shop, 2007-2011), Michael sontag (Schminktisch,2009), Raf Simmons (Repeat,1995-2005), Antonio Marras (Le Orfanelle, 2006) Davi Linggar (Pink, Swing Park.2005), Deden Hendan ( Corpus : Prespective I & II, 2008), Oscar Lawalata, (Education, 2011), Dita Gambiro (Safety Firts, 2007) dan Kiki Rizky & Erika Ernawan (Let’s Talk About, 2011).

Dalam pamerian Dysfashional ini, seakan ingin menegaskan kembali bahwa pameran fashion ini bukanlah sebuah pameran garmen atau pakain, namun lebih kepada tahapan-tahapan material yang berubah menjadi mode dalam sebuah eksplorasi estetis dan identitas. Pada akhirnya mode dan seni akan terlihat sebagai suatu permainan.

BLESS, 2007-2011. Sebuah ruang hibrida antara galeri dan toko konsep (Concept Store).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s