KOMUNIS KORBAN TRAGEDI 1965 ?


Antara tahun 1965-1966 salah satu tragedi kemanusiaan paling besar dalam sejarah manusia setelah Perang Dunia Kedua terjadi di Indonesia. Atas tuduhan upaya menggulingkan kekuasaan pemerintah oleh pihak komunis sekitar 500.000 sampai 1 juta orang dibunuh. Konteks domestik dan internasional peristiwa ini sampai sekarang tidak pernah disorot.


Di Indonesia dugaan bahwa telah terjadi pembunuhan massal adalah sesuatu yang tidak dibahas di muka umum. Di lain pihak, belum ada pembahasan dari perspektif internasional soal ini yang dapat memberikan pemaparan yang gamblang dan terang kepada masyarakat luas.

Oleh karena itu, Goethe Institute Jakarta menyelenggarakan konferensi dan program pendukung Indonesia dan Dunia 1965 selama 18-21 Januari di Goethe Haus.

Konferensi ini bertujuan untuk menyumbangkan sebuah diskursus sejarah di tengah situasi politik Indonesia saat ini dengan cara meningkatkan pengetahuan akademis mengenai dimensi internasional peristiwa 1965/1966.

Buku yang diluncurkan pada pembukaan konferensi ini.
Berbagai program budaya yang juga telah dipersiapkan, antara lain: pameran sejarah, pementasan teater boneka kertas, pementasan tari, peluncuran buku, lomba penulisan esay dan diskusi panel yang terbuka untuk umum, kami harap dapat memicu diskusi yang lebih luas mengenai episode abu-abu sejarah Indonesia ini.

Sebelum acara di buka, Goethe Institute Jakarta disambangi pendemo. Puluhan orang dari Pelajar Islam Indonesia (GPI) meminta acara itu dibubarkan. 30 Orang menggelar aksi di depan GoetheHaus,

Sebelum melakukan aksi di depan Goethe Institut mereka melakukan long march dari Tugu Tani sambil membawa spanduk bertuliskan “Setan Komunis Telah Mati”, “PKI Adalah Pelaku dan Dalang Tragedi 1965 Bukan Sebagai Korban serta poster-poster bergambar palu arit yang diberi tanda silang bertuliskan “Iblis Laknatullah”, “Go to hell”, dan “Setan komunis telah mati.”

“Di dalam ada konferensi internasional komunis yang isinya mereka mengatakan komunis itu korban tragedi 1965. Sama saja mereka sebagai sarang komunis yang berusaha membelokkan sejarah,” terang Aktivis PII Yazid Qulbuddin. Faktanya, tambah Yazid sekitar seratus kader Pelajar Islam Indonesia dibantai ribuan orang PKI.

“Yang di dalam apabila kalian tidak bubar sendiri akan kami bubarkan. Kami akan bakar tempat ini. Kalau ada kader PKI di dalam mohon keluar. Tidak ada tempatnya PKI di negara ini,” kata seorang orator.

Massa tidak ditemui oleh satu pun perwakilan dari Goethe Institute Jakarta. Sedikitnya 30 personel polisi mengamankan aksi ini. Puas berorasi, massa kemudian bergerak meninggalkan lokasi.

Manager Galery Goethe Institut Rizky juga tidak mau memberikan informasi lebih banyak terkait dengan adanya demonstrasi oleh GPI di depan kantor pusat kebudayaan Jerman tersebut.

Namun dia membenarkan bahwa saat ini di Goethe Institute tengah berlangsung diskusi konferensi internasional, pameran buku, pertunjukan tari dan teater tentang Indonesia dan dunia pada tahun 1965.

“Iya (ada pertunjukan dan diskusi tentang Indonesia dan dunia di Goethe Institut) tapi saya tidak boleh berbicara banyak. Saya tahu Anda profesional tapi saya juga punya tanggung jawab,” singkatnya.

Pihak Goethe Institute, akhirnya membatasi acara tersebut yang sedianya untuk umum. Dengan alasan keamanan, akhirnya banyak pengunjung yang ingin menghadiri acara tersebut malah tertahan di luar.

Menurut salah satu pengunjung yang ditolak masuk, acara tersebut memang disinyalir sarat kepentingan. Seakan ada skenario untuk membawa isu ini ke forum internasional, seperti Amnesti International.

Sebuah diskusi yang akan di gelar di penghujung acara ini dengan tema Indonesia dalam Permainan Kekuatan Perang Dingin – Naiknya Soeharto dan Keterlibatan Penguasa Dunia – . Naiknya Soeharto dan Keterlibatan Penguasa Dunia nampaknya akan menjadi kontrovesi baru.

Implikasi domestik dan internasional dari tuduhan kudeta 1965 adalah salah satu tema masalah yang paling ditekan dan dikaburkan secara ideologis dalam sejarah Indonesia kontemporer. Sebuah debat publik yang jujur dan berkelanjutan diperlukan untuk menerangi warisan yang sampai saat ini masih mempengaruhi politik dan masyarakat.

Bagi Goethe Institute, diskusi panel publik ini memang bertujuan untuk menjadi salah satu langkah yanglebih maju demi mengurai silang sengkarut 1965. Organisator yang terlibat dalam “Konferensi Indonesia dan Dunia pada 1965” mengundang beberapa akademisi dan tokoh masyarakat untuk berbagi kepada publik perbedaan pandangan politik mereka tentang tragedi 1965 dan implikasi internasionalnya. Sejarawan terkemuka dari Amerika John Roosa sebagai pengamat ilmiah yang netral, Franz Magnis Suseno dan sastrawan Putu Oka Sukanta sebagai saksi kontemporer serta dua tokoh lain yang mewakili perspektif konservatif dan agama nasional akan hadir sebagai narasumber.

One thought on “KOMUNIS KORBAN TRAGEDI 1965 ?

  1. Saya heran kok masih ada saja orang yang sebegitu bodohnya mengingkari fakta sejarah bahwa tahun 1965-1966 ada pembantaian terhadap orang PKI -atau yang dituduh PKI. Kagak ada hubungannya coy ngungkap pembantaian tahun ’65-’66 dengan ngedukung PKI/komunis. hanya orang tak berjiwa kemanusiaan saja yang mencari2 pembenaran atas pembantaian tahun ’65-’66. Malu2in aj, pake bawa2 nama Islam lagi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s