Si Anak Kampoeng; Pesan Perjuangan dan Pendidikan dari Bapak Bangsa.


Kisah hidup mantan Ketua Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif di filmkan berdasarkan novel biografis “Si Anak Kampoeng” karya sekaligus sutradara film Damien Dematra. fajar Riza Ul Haq, Direktur Eksekutif Maarif Institure menjadi produser dalam film ini, mewakili MI Production.


Julukan Buya Syafii, demikian akrab di panggil semasa sekolah adalah Si Anak Kampoeng, dan menjadi judul buku sekaligus film yang menceritakan bagaimana keterbatasan hidup yang dialami tidak menghalangi untuk mengecap pendidikan tinggi bahkan hingga ke luar negeri (AS). Lahir dan dibesarkan di sebuah kampung yang jauh dari hiruk pikuk kota, tidak menjadi hambatan memiliki cita-cita dan semangat tinggi untuk maju.

Proses praproduksi telah dilakukan, dimana demi kepentingan artistik dan seni, maka sebagian besar syuting justru dilakukan di Puncak, untuk membuat replika kampung Sumpur Kudus seluas 28 Ha. Dijadwalkan tanggal 29 Januari akan syuting kembali dan pertengahan Februari akan rampung sebelum siap dinikmati penonton pada pertengahan Maret 2011. Rencananya film ini, sesuai dengan bukunya, akan dibuat trilogi.

Sebagai sosok Bapak Bangsa, perjuangan dan nilai-nilai kehidupan Ahmad Syafii Maarif menjadi suri tauladan bagi generasi kini. Tak heran, rencananya, pihak PP Muhammadiyah akan menjadikan film ini sebagai bagian kurikulum pendidikan dimana 3000 keping DVD akan diberikan ke sekolah-sekolah Muhammadiyah di penjuru tanah air.

Para pendukung film ini rata-rata adalah pemain baru, hal ini menurut Sang sutradara juga sebagai pembuktian bahwa di negeri ini, siapa saja bisa dan berpeluang sama untuk main pada sebuah film. Radha Ihtisyamsuddin sebagai tokoh utama Syafii Maarif kecil dan Aming memerankan tokoh Rahman yang menjadi guru sekolah Syafii. Peran lainnya ada Andara Rainy Ayudini (Etek Bainah), Firda Anggraini ( Fathiyah), Lucky Moniaga (Ma’rifah) dan terdapat nama Inggrid Wijanarko, dan Pong Hardjatmo.

“Main di film ini adalah true story yang nyata dan orangnya masih ada, realitas ini yang membuat saya suka, tokohnya bisa menjadi panutan,” ujar Pong Hardjatmo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s