Al Gore : Peran Penting Indonesia Dalam Perubahan Iklim


Selama 3 hari, 8 – 10 Januari di Jakarta berlangsung Konferensi Tingkat Tinggi The Climate Project se-Asia Pasifik. The Climate Project, sebuah program kepemipinan yang digagas oleh mantan Wapres AS, Al Gore sehingga menghantarkannya menerima Nobel Perdamaian 2007, membawa misi untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat mengenai efek buruk dari perubahan iklim serta bekerja ke arah penerapan solusi di tingkat akar rumput di seluruh dunia.


Sejumlah negara di Asia Pasifik, ikut dalam kegiatan yang ketiga kalinya di dunia ini. Sebanyak 350 peserta dari 21 negara hadir di Jakarta. Negara-negara peserta KTT adalah Amerika Serikat, Australia, Bangladesh, Cina, Fiji, Filipina, Hong Kong, India, Indonesia, Inggris, Kep. Solomon, Kiribati, Korea Selatan, Nauru, Pakistan, Papua Niugini, Thailand, Timor Leste, Turki dan Vietnam. Dari 350 perserta, Indonesia mengirimkan 60 persen.

Para peserta berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, seperti pemimpin usaha, profesional, pendidik, atlit, musisi, ilmuwan, aktor, pemimpin agama, pelajar, pensiunan, sera indivisu-individu lain yang memiliki komitmen terhadap usaha penanggulangan krisis perubahan iklim.

Al Gore sendiri memberikan pelatihan langsung kepada para peserta KTT selain praktisi lainnya. Para peserta KTT ini diharapkan bisa menjadi agen perubahan bagi lingkungan atau komunitasnya sehingga bisa memberikan efek lanjutan bagi kesadaran untuk menjaga lingkungan.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Al Gore bahwa pendidikan mengenai perubahan lingkungan adalah penting bagi masyarakat di wilayah Asia pasifik. Hal ini mengingat resiko yang tinggi sehingga harus meninggalkan tempat mereka tinggal saat ini dalam beberapa dekade mendatang.

Wilayah Asia Pasifik, dengan untaian kepulauannya, terancam risiko perubahan iklim dalam bentuk yang cukup unik. Wilayah ini menjadi semakin terancam risiko kenaikan permukaan air laut, banjir, dan ekploitasi lahan.Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia merupakan salah satu negara yang rentan terhadap perubahan iklim.
Dengan melindungi hutan dari kerusakan alam, Indonesia akan senantiasa memegang peran penting dalam menanggulangi krisis perubahan iklim.

“Kepemimpinan politik penting, dan akan senantiasa penting, namun kerja sama dari berbagai lapisan masyarakat, yang akan membuat perubahan dan mengantar kita menuju solusi,” kata Maggie Fox, Presiden sekaligus CEO dari Allience for Climate Protection. The Climate Project sendiri merupakan sebagian program dari ACP menambahkan.

Di wilayah Asia Pasifik, terdapat 900 orang yang telah sebelumnya dilatih oleh Mantan Wapres Al Gore sebagai relawan The Climate Project. Bersama-sama, para relawan ini telah memberikan 1733 presentasi perubahan iklim, dan mencakup 119,000 orang peserta presentasi. Satu dari 75 orang Australia telah melihat presentasi yang diberikan oleh salah satu dari 330 presenters yang tersebar di Australia. Setiap lima menit, ada satu orang di wilayah Asia Pasifik yang melihat presentasi dari The Climate Project.

Sementara itu, Manager The Climate Project-Indonesia, Dr. Amanda Katili Niode, berharap Pertemuan Puncak ini mampu mendorong dialog mengenai solusi krisis perubahan iklim dengan mempertimbangkan nilai-nilai tradisional seiring dengan teknologi modern. TCP – Indonesia, secara aktif telah menyuarakan isu-isu perubahan iklim ke masyarakat sejak didirikan pada 2009 lalu.

Pertemuan Puncak ini hadir pula Dr. Henry Pollack, profesor geofisika dari University of Michigan yang berperan sebagai penasehat sains bagi TCP. Selain itu, para peserta juga mendapat pembekalan dari Agus Purnomo, Asisten Khusus Presiden RI untuk isu-isu perubahan iklim. Sebagaimana diketahui selama ini, bahwa Agus Purnomo adalah pembantu presiden yang bertugas memberikan masukan terbaru kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengenai perkembangan negosiasi perubahan iklim, serta memberikan acuan dalam menangani isu perubahan iklim. Saat ini beliau menjabat sebagai Kepala Sekretaruat Dewan Nasional Perubahan Iklim republik Indonesia.

Al Gore sendiri, memprediksi Indonesia bisa menjadi negara super power penggunaan energi panas bumi (geothermal) sebagai sumber tenaga listrik. “Indonesia bisa menjadi negara super power untuk energi listrik dari panas bumi dan hal itu bisa menjadi kelebihan untuk ekonomi Indonesia,” kata Al Gore dalam pidato pembukaan KTT. Menurutnya Indonesia merupakan negara ketiga terbesar yang memproduksi listrik dari tenaga panas bumi, sedangkan Filipina sebagai negara terbesar kedua di dunia produsen listrik panas bumi.

“Para ilmuwan dan para ahli terkenal secara luas mengatakan bahwa produksi listrik dari panas bumi dapat mempresentasikan luasnya sumber tenaga listrik yang bebas karbon di dunia saat ini,” katanya.

Penerima penghargaan Oscar melalui film dokumenter “An Inconvenient Truth” ini mengatakan, solusi perubahan iklim melibatkan berbagai langkah yang bisa diambil untuk menghemat uang sekaligus mengurangi emisi karbondioksida.

Al Gore mengatakan, Indonesia merupakan negara dengan profil emisi karbon yang unik karena sebagian besar berasal dari sektor kehutanan dan hutan gambut.

“Ada peluang besar untuk mengambil pendekatan keberlanjutan dari raksasa seperti pembakaran batu bara dan minyak atau gas,” katanya.

Dia menilai, ada banyak langkah yang bisa diambil untuk mencegah kerusakan hutan dan mengurangi emisi sekaligus meningkatkan pendapatan dan menciptakan perekonomian di Indonesia.

“Pengunaan lahan yang lebih efisien akan meningkatkan nilai ekonomi dan mengurangai polusi dari gas rumah kaca,” katanya menambahkan.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat rentan dengan perubahan iklim. Harapan masyarakat dunia, terutama dari negara-negara maju, adalah Indonesia tetap mampu melindungi hutan dari kerusakan alam dan manusia.

Selain itu, Gore menekankan pula, pentingnya penggunaan panas bumi untuk kebutuhan listrik di dunia, termasuk Indonesia, karena panas bumi adalah jenis energi alternatif tanpa karbon.

Sebagai negara ketiga dengan panas bumi terkaya, Gore menambahkan, “Indonesia dapat menjadi produsen utama listrik berbahan geothermal, yang juga diproduksi sekaligus untuk memajukan perekonomian.”

Peraih Nobel Perdamaian 2007 ini juga menyebutkan Indonesia masih menghadapi persoalan pembabatan hutan gambut dan pembukaan lahan dengan menggunakan api. Kegiatan ini jelas berpengaruh pada peningkatan gas rumah kaca.

Meskipun demikian, Al Gore menyampaikan apresiasinya atas partisipasi aktif Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dalam berbagai pertemuan mengenai pengurangan emisi global. Gore juga menyampaikan dukungannya bagi tekad Indonesia untuk menurunkan emisi sebanyak 26 persen pada tahun 2020.

Penggunaan panas bumi sejak lama dipertimbangkan oleh pemerintah untuk mensejahterakan masyarakat. Beberapa proyek memang sudah dijalankan, tetapi ada pula yang pengaturannya di beberapa daerah belum maksimal.(HQM)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s