Guinness Sumbang 230 Ribu Pound Bagi Wirausaha Indonesia.



Guinness memberikan bantuan 230 ribu Pundsterling kepada wirausaha Indonesia yang memiliki perhatian pada pengembangan usaha berbasis komunitas.

Guinnes & Co, produsen Bir Guinness dari Irlandia menciptakan The Arthur Guinness Fund (Dana Bantuan Arthur Guinness) sebagai dana bantuan internal untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat di beberapa negara di dunia termasuk menyediakan keterampilan untuk melangsungkan kehidupannya dan mendukung wirausaha berbasis sosial. Dana ini memang tidak ditujukan untuk kegiatan amal.

Arthur Guinness sendiri, pendiri Guinness & Co, merupakan seorang philantropis yang memiliki visi untuk meningkatkan kualitas dan hidup penduduk di tempat dimana produknya di jual di seluruh dunia. Arthur Guinness dan keluarganya memiliki sejarah kedermawanan baik di Irlandia maupun di belahan lain dunia hingga kini.

Dalam pelaksanaannya, Pihak Arthur Guinness Fund akan bermitra dengan organisasi komunitas dan badan terkait. Di Indonesia, Arthur Guinness bermitra dengan British Council.

Sejak tahun lalu, dalam perayaan 250 tahun Guinness, telah di canangkan program penjaringan bagi calon penerima bantuan dana Arthur Guinness Fund tersebut. Sejumlah 230 000 Poundsterling disalurkan kepada enam wiraswasta berbasis komunitas di Indonesia. Dana CSR ini merupakan yang terevsar di Asia Pasifik, bertujuan untuk mengembangkan sistem pendukung yang berkesinambungan bagi pengusaha dengan usaha berdasarkan komunitas yang berkembang.

Pihak Guinness sendiri melalui perwakilannya di Indonesia, John Galvin menyatakan penghargaannya bagi masyarakat Indonesia yang dinilai cukup memberikan kontribusi bagi perkembangan Guinness. Indonesia merupakan pasar ke enam terbesar di dunia bagi produk Guinness, dan terbesar di Asia. Wajar bila perhatian Guinness kepada Indoensia lebih besar.

Dalam program ini, Guinness ingin menciptakan iklim dan solusi sosial yang akan membawa manfaat nyata bagi msyarakat. program pemberdayan masyarakat yang dibantu oleh Arthur Guinness Fund ini bertujuan membangun jaringan 30 pengusaha berbasis komunitas yang sudah mapan untuk mendukung 120 pengusaha berbasis komunitas yang masih pemula.

Pada akhirnya jaringan ini akan menyediakan solusi yang berkesinambungan bagi berbagai hal masalah sosial dan lingkungan dengan menerapkan pendekatan bisnis yang inovatif.

Program sejenis telah dilakukan di Irlandia, bermitra dengan Pengusaha Sosial Irlandia (Social Entrepenerus Ireland) dengan bantuan 2,5 juta Pounsterling untuk mendukung dan mempersiapkan pengusaha sosial. Di Ghana dan Nigeria, Guinness mendukung program usaha penyaringan air yang bertujuan membangun pangsa pasar alat rumah tangga dengan harga terjangkau secara berkesinambungan. CrystalPur, merupakan alat yang dibangun untuk menyaring air guna mengurangi waterborne disease diantara 250 ribu penduduk Ghana dan Nigeria. Sementara Di Amerika dengan menggandeng Youth Business America (YBA) berusaha memperpanjang pinjaman mikro dengan tujuan menginspirasi pengusaha yang sudah cukup umur untuk melakukan penanaman modal.

Ada enam pengusaha Indonesia yang akhirnya menerima dan dari Arthur Guinness Fund tersebut, yaitu Sabam Malau, pemimpin Aliansi Pro Agribisnis Pakpak Barat asal Medan. Aliansi ini bertujuan menciptakan komunitas petani mandiri dengan menciptakan pupuk ramah lingkungan dari kotoran kelinci sehingga mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia. Mereka membangun peternakan kelinci di Pakpak Barat sebagai bahan produksi.

Kedua, Dita Adi Saputra, CV. Fruitanol asal Jogja Mengembangkan bio etanol dari limbah salak yang memang banyak di Jogja menjadi pupuk organik. CV. Fruitanol direncakanan menjadi perusahaan berbasis komunitas petani salak yang memproduksi dan menjual energi bio etanol dan pupuk organik.

Ketiga, Nadya Fadila Saib asal Bandung, melalui Komunitas Wangsa Jelita, pengusaha ini mengembangkan komunitas petani bunga untuk memproduksi dan menjual sabun alami sebagai pengembangan produksi bunga.

Keempat, Zainal Alif, berusaha melestarikam adat sunda melalui KOmunitas Hong yang ingin membangun kembali mainan-mainan khas Sunda secara massal dan aman. Komunitas ini berada di Kampung Dago Pakar, Bandung.

Kelima, Elias Tona Moning, setelah bereksperiman dengan Jathropa Curcas (Jarak) di P.Flores, melalui CV. Outreach International Bio Energy, mereka juga ingin mengembangkan penanaman Jati dan peternakan Lebah untuk meningkatkan kesejahteraan petani di P.Flores.

Keenam, William Kwan, melalui Indonesian Pluralism Institute berusaha meneliti dan mengembangkan budaya batik khususnya batik Lasem, termasuk menciptakan kesadaran konsumen akan pentingnya industri ini bagi komunitas. IPI membentuk Pusat perdagangan batik berbasis komunitas secara online untuk pengrajin batik Lasem.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s